Andari Karina Anom’s blog
SAYA sering membuat janji ngupi sore-sore dengan teman lama. Beberapa hari lalu, kami memilih Cheesecake Factory di kawasan Tebet. Pilihan cake-nya dahsyat, minumannya pun sedap. Tempat wajib buat penggemar keju sepertiku. Kali ini, saya datang setengah jam lebih cepat dari jadwal. No problem. Toh saya punya buku untuk teman menunggu.
Sesekali mata saya berkeliaran mengamati meja-meja di sekeliling. Di depan saya ada dua mahasiswa. Tampaknya mereka sepasang kekasih. Sambil membolak balik halaman buku, mata saya tak bisa tidak melirik mereka saling bersuapan mesra. Strawberry Cheesecake yang cuma dipesan satu –entah mesra, entah irit– tak kunjung habis karena disantap pelan-pelan. Sambil bisik-bisik pula. Dalam hati saya ngerasani : sekarang sih suap-suapan, nanti kalau sudah kawin (apalagi kalau pas tanggung bulan, bbm naik, tagihan beruntun) apa tetap mau suap-suapan? Orang Betawi bilang: makan tuh cinta!
Bosan dengan dua sejoli ini, pandangan beralih ke meja lain yang baru didatangi pengunjung baru. Kali ini sepasang suami istri berumur 60an– sebaya orangtua saya. Keduanya memesan makanan, menghabiskannya tanpa banyak bicara, lalu pulang. Lagi-lagi saya berkomentar dalam hati: Apakah kalau sudah puluhan tahun menikah, kita akan jadi seperti mereka? Makan ya makan, sudah untung ada yang mau temani. Makan hanya kebutuhan perut. Bukan lagi ajang bermesraan seperti pasangan anak muda di meja sebelah.
Untunglah tak lama teman saya datang. Saya pun tak perlu menyusahkan diri dengan mencari penjelasan “ilmiah” soal suap-suapan.
Baby, it’s good to be back
So good to be back
Honey, it’s good to be back
in the blog again…
ALHAMDULILLAH, hari ini, Aisha (dan mamanya) lulus ASI eksklusif 6 bulan. Masa-masa indah saat makanan anak selalu tersedia dan ready to eat segera berlalu. Mulai sekarang Mama harus memikirkan menu makanan sambil berdoa semoga Aisha suka dan mau menghabiskannya. Welcome to the real world!
Sesuai “buku suci” The Baby Book-nya Dr. William Sears, usia 6-7 bulan anak sebaiknya hanya diberi buah. Yang direkomendasikan sebagai makanan pertama bayi adalah pisang dan “sendok” pertama terbaik adalah jari ibu. So, here I am: menyolek pisang Ambon –yang sudah dilunakkan dan ditetesi ASI supaya tidak terlalu kental— dan menyodorkan telunjukku ke Aisha. Seperti biasa, Aisha memang sangat suka menyambar jari dan memasukkannya ke mulut. Maka, telunjuk Mama pun bersarang di lidahnya.
Merasa ada yang aneh, dia mencecapkan lidah sambil mengernyit. Maklum, enam bulan hanya kenal susu rasa plain “made in” Mama, sekarang kok ada rasa lain. Alhamdulillah, kagetnya hanya sesaat . Sesudah itu, dia mulai mengoceh dan membuka mulut lebar-lebar. Maka suapan demi suapan berikutnya pun lancar. Memang sih, kadang pisangnya keluar lagi dari mulut atau kadang dia tiba-tiba dia mengeluarkan suara hoek seperti mau muntah. Namanya juga baru belajar. Wah mamanya lega banget. Pengalaman makan pertama anakku sukses.
Recent Comments