Andari Karina Anom’s blog
THE historical moment is finally came: Aisha said her first word. By first word I mean first MEANINGFUL word. It’s not mama (as I deeply hope), neither papa (as her dad wishes). Her official first word is mamam.
She clearly mention it every time she’s hungry in between her regular meal time. And she truly mean it as she always point her finger to biscuit or fruit while saying this particular phrase. Of course –among hundred of “planet’s language” she uses everyday– there are: mama, papa and her own name Aicha. But, frankly, I doubt she really meant what she said. Mamam is the exception.
From the first time she ate solid, Aisha never hates food. Unlike many babies who are picky eater (or even worse: refuse to eat anything), Aisha enjoys sitting in her high chair and empties her little bowl. Of course, she also loves to play with her dishes. She likes to “help” by grabbing her own spoon which mostly landed on the floor– not in her mouth. My floor must be “very healthy” as it regularly “consumes” Aisha’s home made food.
However, food is Aisha’s love-at-first-sight (first-bite, to be precise). As she grew in a food lover family, Aisha witnesses her parent (and her grandparents, as well) circling our dining table, enjoying meal and the chit-chat This little girl is now part of it. Her first word confirmed it.
SEBUAH pesan pendek mendarat di telepon genggamku, Minggu malam: “Hari ini gue merasa jompo banget, nggak produktif at all. Tadi siang tidur lama bener. Malam ini juga bawaannya ngantuk. Males banget ngapa-ngapain. Mau jadi apa nih?”
Pengirimnya adikku, salah satu wanita tersibuk di dunia. Berangkat jam 7 pagi dan tiba di rumah sekitar jam 9 malam. Menyetir sendiri membelah macetnya Jakarta dan mengitari kesibukan yang menerpanya sehari penuh. Sampai di rumah, dia menemani Rania– putri 3 tahunnya– bermain, membuatkan susu dan membacakan buku-buku pengantar tidur. Semua ini untuk “membayar” satu hari yang tak dihabiskan dengan anaknya.
Adikku sama sekali bukan anak rumahan. Sabtu dan Minggu pun kadang dia masih ada urusan pekerjaan. Kalaupun tidak, biasanya dia pergi dengan keluarganya. Ke kolam renang, supermarket, mall, restoran, arisan keluarga atau kemana saja. Pokoknya “wajib hukumnya” membawa little princess jalan-jalan di akhir pekan sebagai pengganti lima hari sang mama sibuk di kantor.
Maka ketika tiba-tiba harus seharian di rumah, dia “mati gaya”: merasa jompo, pemalas dan tidak produktif, seperti isi sms-nya tadi. Dalam hal ini kami berbeda. Bagi saya, berada di rumah tanpa agenda apapun adalah rekreasi favorit. Momen itu justru harus dinikmati dengan seksama. Ditemani secangkir kopi Toraja dan alunan musik new age Enya atau Enigma. Adikku tercinta nampaknya harus banyak belajar tentang the art of doing nothing.
RASANYA saya memang tak ditakdirkan berjodoh dengan sepatu hak tinggi. Bukan karena tidak suka. Saya justru cinta mati pada high heel. Rasanya tak tahan melintas di deretan sepatu di mall tanpa sekadar melirik atau mematut-matutnya. Kalau sudah tak tahan — apalagi kalau sedang diskon– dijamin alas kaki itu saya boyong pulang.
Di rak saya ada beberapa pasang sepatu bertumit tinggi. Dari selop hingga sepatu formal. Terus terang, setiap memakainya, rasa percaya diri juga ikut meninggi. Apalagi kalau haknya sampai bergemeletuk di lantai… tak-tuk-tak-tuk. Bak Cinderella dengan sepatu kacanya. Atau Sarrah Jessica Parker dengan Manolo Blahnik-nya.
Sayangnya, sepatu yang kita cintai itu kadang tak tahu diri. Dibeli mahal-mahal dan dirawat dengan hati-hati, namun ia senang menyiksa pemiliknya. Membuat jari-jari lecet luar biasa. Berjalan pun tertatih-tatih. Terutama di awal-awal pemakaian. Tentu saja, “haram hukumnya” kita menunjukkan penderitaan itu di depan orang. Seperih apapun kaki, tetaplah berjalan dengan gagah perkasa –kalau perlu setengah berlari– sambil tetap tersenyum santai. Gengsi dong kalau sampai ketahuan.
I was raised in a bread family. Of course we’re not kind of wheat or something. We’re still people. Normal people who have grown up in a bread consumer family. Especially for breakfast. My mother always served me and my sister toast with butter and chocolate sprinkles, completed with a cup of tea or coffee (YES, she made us drink caffeine since we’re baby! Blame her for my future addiction!).
I fully understand why my family’s such a BIG fans of bread. Please don’t accuse us tryng to copycat Westerners’ way of eating. It probably because my mom was a very busy career woman for as long as I can remember. As she normally left home around 6.30, it would be difficult –not to mention, impossible– for her to cook and serve us “heavy” meal in the morning. Therefore, she brilliantly choosed something easy-to-prepare-yet-full-of-nutrition-food for her beloved daughters. Toast that was.
FOR Indonesian, tea may not be something special. You don’t have to be noble or rich to drink tea. It can be found cheaply and easily everywhere– from kitchen to any street vendor. If you asked me, I will vote for Teh Botol. As it said on the advert: apapun makanannya, minumannya Teh Botol Sosro (whatever the food, the drink’s Teh Botol Sosro).
To the Japanese, tea is considered something “high”. It takes a “complicated” procession just to sip a cup of tea. Last Tuesday, I got a rare opportunity to experience Chanayo– the Japanese Tea Ceremony– in Central Japan Study (Pusat Studi Jepang), University of Indonesia. Not just normal ritual, but performed by Sen Genshitsu, an 85 year’s old Grand Master of Urasenke –the name of one of the main schools of Japanese tea ceremony. The tea guru gave speech and presented the Japanese way of drinking tea. For them, is not just a drink, but a culture. A lifestyle.
My Aisha — nearly 10 month’s old– loves to scream whenever she’s excited. In this video, she’s happily playing with a frozen Tommee Tippee icebag– my “can’t-live-without-it” item to transport breastmilk from office everyday.
YA, itulah “profesi” baru saya sejak menjadi ibu. Sebelum melahirkan Aisha, hampir 10 bulan lalu, terus terang saya buta sama sekali tentang ASI (air susu ibu) dan menyusui. Dalam pikiran saya waktu itu, bayi lahir diberi ASI dan dicampur susu formula ketika ibu kembali bekerja.
Alhamdulillah, Allah melempangkan jalan ke arah ASI tanpa saya merencanakannya. Dimulai dari tempat saya bersalin—RS Asih di Panglima Polim, Kebayoran Baru– yang ternyata sangat pro-ASI. Begitu keluar dari perut, Aisha langsung ditempel ke ke dadaku. Bayi masih merah dan bahkan belum membuka mata itu menyusruk-nyusruk dan sukses menemukan puting susu mamanya hanya dalam waktu 2 menit. Subhanallah. Dapat payudara kiri, lalu dipindah oleh suster ke kanan. Baru saya tahu, ini yang namanya Inisiasi Menyusui Dini atau Early Latch On (ELO) yang sedang gencar dikampanyekan di Indonesia.
SETIAP berangkat kantor, saya harus menghadapi “ritual” Aisha menangis. Kalau kata buku-buku parenting sih, ini yang namanya separation anxiety. Dia cemas berpisah dengan mamanya—walau cuma beberapa jam. Karena itu, saya sengaja membiasakan Aisha melihat mamanya pergi dan menunggu di depan ketika mamanya pulang. Supaya dia tahu, “perpisahan” ini cuma sementara.
Ketika Aisha masih bayi sekali, setiap saya pergi, dia hanya memandang dengan tatapan yang membuat mamanya sedih. Sekarang, dia tambah besar dan makin pintar “memanipulasi” perasaan mamanya. Tiap pagi, kalau saya masuk mobil dan menyalakan mesin, Aisha langsung menangis dan menyorongkan tangan minta ikut. Walaupun kasihan, dalam hati terselip juga rasa senang: ah, anakku benar-benar sayang mamanya. Buktinya dia tidak mau berpisah dari saya.
Minggu lalu, mobil sedang di bengkel, saya berjalan kaki untuk menyetop taksi di ujung jalan. Seperti biasa, Aisha mengantar saya sampai depan. Tapi kali ini dia tidak menangis sama sekali. Dia tetap bermain dan tertawa girang meski saya sudah keluar pagar. Baru saya sadar, ternyata yang selama ini dia tangisi bukan mamanya, tapi mobilnya!
I always love supermarket! Saya selalu menanti waktu belanja dengan senang hati. Berbelanja bukan sekedar rutinitas bulanan, tapi sebuah rekreasi. Karena itu, kunjungan ke supermarket idealnya dalam keadaan santai dan waktu longgar. Saya paling tidak suka berbelanja “di bawah tekanan” – karena terburu-buru atau suami yang protes karena lama menunggu.
Itu sebabnya, saya lebih suka berbelanja sepulang kantor,. Bisa tentram dan damai mengobok-obok supermarket sesuka hati. Bisa puas menjelajah rak, membanding-bandingkan aneka produk dan merek sebelum memutuskan mana yang akan dibeli –atau tidak dibeli. Walaupun sudah biasa membeli merek tertentu, tetap saja “tidak sah” berbelanja tanpa menyusuri seluruh lorong. Jika beruntung, kita bisa dapat yang diskon, hadiah, buy 1 get 1 free atau 3 for 2 (ini khas Marks and Spencer). Persis seperti acara Supermarket Sweep yang dulu pernah tayang di televisi Indonesia.
SOME shopping centers in Jakarta lately dedicate special parking spaces for ladies driver. Located few steps away from the main gate, people often call it “VIP” section. Cilandak Town Square (Citos) and Pondok Indah Mall –both in South Jakarta– are two of them. While many welcome this priviledge as gender sensitive, some of my girl friends oppositely see it as a “gender harrasement”. The treatment, they said, must be based on “gender bias” thinking: woman drives worst than man does. Do you think we’re that “disable” just to find a parking space?
In Jakarta– as if life isn’t hard enough– driving is a struggle. The traffic jam, the undiscipline people, the reckless public buses, the “only-God-knows-when-will-it-turn” bajaj, the pushy pedagang asongan (street peddler), the kapak merah (notorious crime ganks operate in traffic light), the frequent flood in many areas. And, if you think your problem’s solved when reach your destination, you are so wrong, my friend. The game’s not over yet. You still have to fight for parking space. Not to mention those building who crazily charge you very high on parking.
To me, the Ladies-Driver-Only policy is like “a piece of heaven”. Don’t get me wrong. I totally against that “man-drives-better-than-woman” idea. I also appreciate my girl friends with their “feminist” point of view. I simply assure myself: after battling on the street everyday, wouldn’t it be nice to have one little pleasure like this?
Recent Comments