Andari Karina Anom’s blog
MONG KOK, di awal Juli lalu, dijejali turis. Saat saya melintas di kawasan belanja murah meriah di Hong Kong itu, seorang wanita berbisik dengan bahasa Inggris seadanya: “Suvenir Olimpiade?”. Tengok kiri kanan, penjual itu lalu memaksa saya melongok lemari kecil yang tersuruk di kolong meja. Isinya boneka dan gantungan kunci lima maskot olimpiade—termasuk Jingjing si Panda.
Pedagang itu termasuk nekad. Padahal, sebulan sebelumnya, polisi baru melakukan razia besar-besaran di Mong Kok, Wan Chai dan Yau Ma Tei di Hong Kong. Aparat menyita sekitar sekitar 350 cendera mata tiruan. Cina Daratan tak luput dari operasi pembersihan ini. Termasuk di Shenzen dan Guangzhou, yang populer sebagai “surga” barang bajakan.
Inilah salah satu upaya Cina menyambut pesta olahraga dunia yang dibuka Sabtu pekan depan. Selama ini, Cina terkenal sebagai produsen barang-barang aspal—asli tapi palsu. Dari tas Louis Vuitton, arloji Patek Philippe hingga ke suku cadang kendaraan bermotor. Departemen Perdagangan Amerika Serikat melaporkan Cina ke World Trade Organization sebagai negara yang tak menghormati hak atas kekayaan intelektual.
SAYA sering membuat temu janji makan siang. Salah satu partner rutin yang pasrah “diculik” adalah sahabatku sejak SD, Tjut Riana. Belakangan kami tergila-gila pada Grand Indonesia, mall raksasa di kawasan Bunderan HI, Jakarta. Pilihan restoran dan kafenya banyak. Lokasinya pun relatif dekat dari kantor kami berdua. Saya di Jalan Proklamasi, dia di Wisma BNI 46.
Sebetulnya sudah lama dia “memprovokasi” saya melongok Grand Indonesia, tapi saya belum tergoda. Saya tetap setia dengan Plaza Indonesia– berlokasi di seberangnya– karena sudah telanjur akrab dengan cafe dan toko bukunya. Ada Kinokuniya, Aksara, Periplus dan Times. Saya mulai melirik Grand Indonesia ketika ada pameran buku Gramedia– semacam “hidangan pembuka” sebelum tokonya resmi dibuka. Sejak itulah saya jatuh cinta dan rajin bertandang ke sini. Terutama untuk makan dan buku. Selain Gramedia seluas 4500 meter persegi itu, ada juga Kinokuniya.
Yang dimaksud Grand Indonesia terdiri dari Grand Indonesia Shopping Town, Hotel Indonesia, Kempinski Hotel dan Kempinski Residences dan Menara BCA. Dibangun di bekas lahan Hotel Indonesia dan Hotel Wisata di Bundaran HI Jakarta, kompleks itu menghampar seluas 640 ribu meter persegi.
Hong Kong di akhir Juni lalu adalah perjalanan luar negeri pertamaku setelah melahirkan. Sempat ragu berangkat, ingat anakku, 11 bulan, yang masih menyusu penuh– belum setitikpun “ternoda” susu formula. Tapi saya tak boleh menyerah. Working mom, working breast. Keduanya harus sejalan.
Maka, untuk perjalanan lima hari ini, saya membawa peralatan tempur: pompa listrik Medela, plastik ASI Gerber dan beberapa botol kosong. Jika setiap liputan ke negara orang saya kerap mencuri-curi waktu untuk plesir (atau, ehm, shopping), kali ini saya selalu kabur untuk memerah ASI. Pagi sebelum meninggalkan hotel, siang atau sore di saat lowong dan malam menjelang tidur.
Saya berjuang melawan malas dan capek. Ini Hong Kong lho. One of the best shopping destination in the world. Pastinya lebih enak jalan-jalan dong daripada bertapa di kamar memerah susu. Kalau sudah begini, saya bayangkan wajah Aishaku yang cantik– kadang sampai menangis. Mama sudah janji akan berikan kamu yang terbaik, Nak!
FACEBOOK, the 71-million-member social network, has attracted lots of adults during the last year as it became a global technology cause celebre. But I’m hearing more and more of these grown-up newbies questioning whether the service is really worth their time. Some find it more annoying than useful, and can’t really figure out any benefit.
Even some tech cognoscenti, many of whom are active and engaged Facebook users, are souring on the service. Caterina Fake, co-founder of Flickr and now an executive at Yahoo (YHOO, Fortune 500), told me the other day that she has put her Facebook profile in mothballs and stopped using it entirely.
I remain convinced there are significant benefits to be found in making Facebook a central part of one’s online life - but appreciate that for many it will take time before those benefits become obvious.
For some, it might be a case of waiting for Facebook’s already good features to get even better. Improving Facebook for grown-ups will be a huge priority for Sheryl Sandberg, who recently took over as Facebook’s number two.
In general, adults need to convince friends to join at the same time in order to appreciate Facebook’s pleasures. Unlike the students for whom the service was originally designed, adults don’t enter it with a pre-baked group of acquaintances and friends. Facebook CEO Mark Zuckerberg calls that set of connections a user’s “social graph,” and establishing it inside the service is critical for Facebook to have value.
SEBUAH iklan sabun yang sedang gencar tayang di televisi mengusik saya. Mereknya Sinzhui. Menurut narasinya, pengguna sabun pemutih wajah ini akan jadi “secantik wanita Jepang”. Sekilas, tak ada yang aneh jika produk kosmetik mengklaim bisa mempercantik, mencerahkan atau memutihkan. Namun, bagi saya, kalimat “secantik wanita Jepang” itu politically incorrect.
Saya bisa saja mempertanyakan –atau bahkan menuntut– iklan yang secara terbuka mengumumkan wanita Jepang lebih cantik dibanding wanita Indonesia. Artinya, kalau dibalik: perempuan Indonesia lebih jelek ketimbang perempuan Jepang. Apa iya Dian Sastro, misalnya, lebih buruk daripada Tanaka Yuko, pemeran Oshin remaja?
Cantik itu sangat relatif dan personal. Tergantung siapa yang melihat serta latar budaya dan geografisnya. OK, mungkin ada yang bilang definisi cantik adalah langsing, putih dan berambut lurus. Tapi itu di iklan, di dunia mimpi yang salah kaprah, bukan dunia nyata. Itu sebabnya, saya mempertanyakan kosmetik impor yang menampilkan artis Hollywood untuk promosinya di Indonesia. Misalnya L’oreal yang memakai Eva Longoria dan Kate Winslett.
NILAI rapor yang buram nyaris membatalkan liburan “lima sekawan”: Nala, Tama, Reno, Inka dan Momo. Sudah terbayang hari-hari yang membosankan di rumah saja. Untunglah, kesedihan itu tak berumur panjang. Para orangtua mengijinkan anak-anak mereka bertamasya. Dan ketika kereta berlari meninggalkan Stasiun Kota, petualangan seru pun dimulai.
Rehat sekolah kali ini, mereka mau berkemah di kawasan peternakan milik Tante Canda nan cantik (Cynthia Lamusu) di Ambarawa, Jawa Tengah. Kedamaian liburan mulai terusik saat Nala mendapat hadiah secarik peta tua dari Baja, teman mereka dari desa. Peta lusuh itu ternyata petunjuk ke lokasi harta karun yang sedang diburu penjahat.
Perseteruan para bocah cerdik melawan penjahat yang konyol dan ceroboh masih jadi favorit para pembuat film anak. Di Holywood, Home Alone juga menyuguhkan resep serupa. Begitu juga Petualangan Sherina di sini. Meski begitu, bukan berarti Liburan Seruuu…!!! menjadi tidak seru.
SAYA kadang “ngeri” berdekatan dengan ibu mertua. Bukan karena kami tak akur. Yang saya takutkan adalah sixth sense-nya. Ya, Mama punya kemampuan melihat sesuatu dari “dunia lain”. Bakat ini mungkin ada hubungannya dengan daerah asalnya, Toraja, yang sarat mistik dan aneka ritual jenazah.
Di rumah kontrakanku dulu, Mama sempat bertemu beberapa “teman”. Suatu ketika dia bilang ada anak kecil di pojok kamar. Pernah pula dia bercerita ada seseorang yang mengetuk pintu tengah malam dan “berbincang-bincang” dengannya.
Saya yang penakut inipun jadi stres. Menonton film horor Suzanna–yang kadang lebih tepat dibilang “lucu” ketimbang seram– saja bisa membuatku merinding berhari-hari. Apalagi kalau saya harus hidup bersama “penghuni lain” di rumahku.
WHEN separated from your baby during the workday and can not follow his cues for feeding, you need to give some attention to keeping up your milk supply. Here are some ideas –from my favourite doctor Sears– to insure that you have ample milk for your baby, even if you are apart during working hours.
SCIENCE may have confirmed what most moms already know: When a woman sees her baby smile, certain areas of her brain activate, stimulating happy feelings.
“There’s a definite biological origin to these feelings that mothers have,” said study author Dr. Lane Strathearn, an assistant professor in the department of pediatrics at Baylor College of Medicine in Houston. “The contrast that showed the most response in the dopaminergic system of the brain was when a mother’s own baby smiled compared to an unknown baby face.”
A woman’s crying infant, or even her baby with a neutral expression, doesn’t evoke the same type of brain response as occurs when her baby is smiling, the study found. Strathearn said they haven’t had a chance to look at the effects on fathers. His team published its findings in the July issue of Pediatrics.

CARLA Bruni sungguh beruntung. Kerlingnya sanggup merobek hati banyak pria. Bukan sembarang lelaki, tetapi para pemegang tampuk kekuasaan. Saat ia berkunjung ke Inggris, Pangeran Charles spontan membungkuk dan mengecup jemari wanita 40 tahun itu. Di Amerika Serikat, Presiden George W. Bush memujinya sebagai: a really smart woman. “Pantaslah kamu menikahinya,” kata Bush kepada Nicolas Sarkozy, Presiden Perancis, suami Carla.
Dipersunting Sarkozy, 53, Februari lalu, bintang Carla Gilberta Bruni Tedeschi memang kian berpendar. Bulan ini, wanita kelahiran Turin, Italia, itu meluncurkan album Comme Si De Rien N’était (As If Nothing Had Happened). Isinya 14 lagu tentang cinta, seks dan narkotika. Salah satunya, You Are My Drug – yang dipersembahkan bagi para pecinta obat terlarang — dengan lirik: “lebih membunuh daripada heroin Afghanistan, lebih berbahaya daripada kokain Kolombia”.
Lagi-lagi Carla menuai sanjungan. Harian Le Figaro tak hanya menyebut album ini “sukses besar” dan “karya yang matang”, tapi juga mentahbiskannya sebagai most eagerly-awaited disc for decades. Namun, mengingat Le Figaro adalah pendukung setia Sarkozy, banyak yang curiga ada “udang” di balik pujian itu. Sebelumnya, Bruni sudah meluncurkan 2 album dan belasan lagu. Semua kandas di pasaran dan tiada yang mengenangnya sebagai penyanyi sukses.
Recent Comments