Andari Karina Anom’s blog
MALAM ini, di hadapan notebook-ku tercinta, saya bekerja ditemani Strawberry Fields Forever. Tiba-tiba mataku sembab. Ingatan pun berpendar ke lima tahun lalu, saat saya menjejak di gerbang Strawberry Fields, Liverpool. Sejak belia– kelas 1 SMP tepatnya– tiada tempat lain di dunia yang ingin saya sambangi kecuali “Tanah Beatles”. Saya luncurkan kembali tulisan di blog lama saya– demi sebuah kenangan: Let me take you down…cause I’m going to Strawverry Fields…
***
LIVERPOOL membentang di ujung kakiku. Pelabuhan Merseyside di pusat kota tak hanya menerbangkan angin yang meniup-niup rambutku tapi juga sebait lagu Yellow Submarine: in the town where i was born… Kapal selam kuning dalam lagu itu terdampar dengan megah di depan saya sebagai tugu di tengah Chavasse Park. Ya, saya berada di kota kelahiran John Lennon, Paul Mc Cartney, George Harrison dan Ringo Starr.
Inilah kota Liverpool, lima jam perjalanan darat dari London. Ia salah satu kota besar di Inggris selain London, Birmingham dan Manchester. Kota berpenduduk 470.000 jiwa ini terletak di barat laut Inggris, di bibir pelabuhan kawasan Merseyside. Kota pelabuhan ini tengah berusaha mencapai citra baru di tahun 2008 sebagai ibukota peradaban Eropa. Di dunia, ia juga terkenal sebagai rumah bagi dua tim sepakbola terkenal Inggris, Liverpool dan Everton FC.
Di atas segala popularitasnya, Liverpool adalah Beatles. Begitupun sebaliknya. Tak ada kota yang memuja warganya melebihi pemujaan Liverpool pada The Beatles. Meski menyimpan sejarah sebagai kota pelabuhan dan industri yang jaya di masa lalu Inggris dan Eropa, aset utama kota ini tetaplah empat pemuda lokal yang mendunia sejak 1960 hingga detik ini Meski dua di antaranya –Lennon dan Harrison — telah tiada, Beatles tak pernah mati. Mereka akan selalu hidup dan menyambut siapapun yang datang ke Liverpool.
Yang datang lewat udara akan mendarat di John Lennon International Airport — satu-satunya bandara di Britania Raya yang memakai nama orang– dengan motonya above us only sky yang disitir dari lagu Imagine. Yang berlabuh dengan kapal akan tiba di Merseyside, lokasi The Beatles Story Museum. Kami yang berkendara dari Manchester disongsong plang bertuliskan Welcome to Liverpool, The Beatles City. Lengkap dengan bis kota yang lalu lalang dengan tujuan Penny Lane, Strawberry Fields dan tempat-tempat beraroma Beatles lainnya.
Saya dan suami bergabung dengan tur The Beatles: Magical Mystery Tour, judul lagu dan film mereka yang tak terlupakan. Kami menaiki bis replika dari bis yang mereka pakai dalam film pada 1967. Bis yang asli kini menjadi memorabilia di Hard Rock Café, Miami, sedangkan bis duplikat yang kami tumpangi ini pernah tampil dalam video klip Free As A Bird lagu yang tidak berasal dari salah satu album Beatles dan baru dirilis sebagai single pada 1995, lama setelah kelompok ini tak aktif lagi. Di tiket yang kami beli tertera Ticket To Ride. Tatkala lagu-lagu Beatles menderu-deru di dalam bis, kami betul-betul menjadi bagian dari The Beatles hari ini. Roll up… Roll up for the mystery tour!
Kami menjelajah jejak keempat personil Beatles. Rumah kelahiran, sekolah, tempat tinggal hingga lokasi-lokasi bersejarah lainnya. Tiap lokasi menjadi jejak yang tak padam oleh waktu. Lennon dan McCartney bahkan telah menyerahkan rumah mereka untuk dikelola National Trust sebagai obyek sejarah kota. Sebuah taman di tengah kota dinamai George Harrison Memorial Park setelah si pemilik nama meninggal tiga tahun silam. Area di sekitar tempat tinggal Ringo Starr kini dinamai Ringoland oleh pemerintah kota. Bis menggelinding terus ke lokasi yang menjadi tema lagu mereka semisal Penny Lane, patung Eleanor Rigby, taman Strawberry Fields Forever.
Yang juga sangat berkesan adalah perjalanan ke The Cavern Club, pub tempat The Beatles pertamakali tampil. Kecuali bilangan tahun, tak ada yang berubah dari pub ini. Panggung dan dekorasi ruang di sebuah pojok dua lantai di bawah tanah yang dipertahankan sesuai aslinya dulu, termasuk poster-poster lama. Turis yang tentu sebagian besar adalah fans The Beatles berlomba-lomba berfoto di panggung itu. Saya berada di pub yang setiap lekuknya saya ingat lewat adegan film A Hard Day’s Night. Memorabilia tentang the fab four ini dipajang dengan cantik di sini. Tak ketinggalan The Beatles Shop yang menjual aneka pernak-pernik Beatles yang tak Anda temukan di tempat lain di Inggris. Kami menjinjing sebuah tas bergambar wajah empat personil Beatles berlatar biru.
Kawasan sekitar Matthew Street itu kini dinamai Cavern Walk dan hampir seluruh toko di situ bernuansa The Beatles. Patung Lennon bersandar di dinding bata Cavern Pub yang setiap kepingnya bertuliskan nama-nama besar pemusik yang pernah manggung di dalamnya, dari The Beatles hingga kelompok generasi baru Oasis yang berasal dari Manchester, kota tetangga Liverpool. Satu bangunan menjulang kini tengah dipersiapkan menjadi A Hard Day’s Night Hotel yang rencananya rampung tahun depan, khusus bagi penggemar Beatles. Ah, Beatles memang “pemilik” kota ini.
Kami meninggalkan Liverpool menjelang senja. Tidak dengan bis Magical Mystery Tour tapi dengan suasana hati yang lebih dari magic. Lagu Hello Goodbye yang berkumandang di pusat turis di tengah kota bagai mewakili perasaan kami yang belum mau berpisah dengan kota Beatles ini. I don’t know why you say goodbye I say hello…
Leave a reply