Hari ini, 11 Agustus, adalah hari lahir penulis favoritku: ENID BLYTON. Di Inggris, ulang tahunnya masih diperingati di berbagai kota. Ini tulisan lamaku, tahun 2004, saat saya masih di London– “dekat” dengan Enid Blyton.

***

BRITANIA Raya menjejali masa kanak-kanakku. Negeri ini hadir di kamar saya setiap hari. Lewat serial Lima Sekawan, Pasukan Mau Tahu, Sapta Siaga hingga Mallory Towers dan St Claire. Terimakasih kepada Enid Blyton, sang pengarang, yang telah menghadirkan Inggris di masa beliaku.

Dan, dua pekan lalu, bagaikan mimpi, saya “bertemu” Blyton di rumahnya yang ia namai Green Hedges di Beaconsfield, Buckinghamshire, sekitar satu jam berkereta dari London. Meski bukan sosok aslinya –dia telah berpulang lebih dari 30 tahun silam— dan hanya rumah replikanya yang saya jumpai di Bekonscot Village, saya cukup berpuas hati. Dengan rasa kagum tiada tara, saya menatap boneka Blyton liliput yang mengetik di halaman belakang rumahnya itu.

Ingatan saya langsung berkelana ke aneka petualangan mendebarkan yang saya lalui bersama Lima Sekawan, Pasukan Mau Tahu dan Sapta Siaga. Semua gambaran dalam novel-novelnya menjelma di hadapan saya tiap kali bertandang ke kota-kota kecil di luar London. Meski ditulis sejak 1920-an, gambaran Blyton tentang kota-kota kecil Inggris itu nyaris tak berubah hingga kini.

Tiap kali melihat polisi, saya langsung teringat Pak Goon, polisi desa dalam Pasukan Mau Tahu. Tepat betul cara Blyton menggambarkan topi hitam tinggi dan sepeda polisi dengan bel berdering-dering. Tokoh-tokoh dalam cerita Blyton memang diambil dari kesehariannya. Tokoh Inspektur Jenks, atasan Pak Goon dalam serial yang sama, memang ada di dunia nyata: Inspektur Stephen Jenning, polisi yang pertamakali membentuk sistem pengamanan model Siskamling di kawasan Beaconsfield.

Pola kisah detektif cilik dalam karya-karya Blyton umumnya senada seirama. Anak-anak belasan tahun yang bersekolah di kota bertualang bersama anjing mereka.Tiap liburan musim panas atau musim dingin, mereka bertamasya ke suatu tempat. Lima Sekawan paling hobi ke Pulau Kirrin. Sementara Pasukan Mau Tahu lebih suka tinggal di desa dan melakukan sesuatu yang asyik semisal pergi ke pasar malam, nonton teater boneka atau berkemah.

Dan, petualangan selalu menghampiri mereka. Seperti kata Fatty, si gendut dalam Pasukan Mau Tahu, “Aku tak pernah mencari-cari misteri. Misterilah yang mendatangiku.” Fatty dan kawan-kawannya bertualang dalam belasan judul. Dari Misteri Pangeran Asing, Misteri Rumah Setan hingga Misteri Teater Kecil. Lain lagi Julian, Dick, Anne beserta George dan anjingnya Timmy selalu “tanpa sengaja” bertemu dengan misteri di lebih dari 20 judul buku. Memburu Kereta Api Hantu, Rahasia Lorong Pencoleng hingga Misteri Pulau Seram.

Gambaran tentang Pulau Kirrin dan mercusuar tuanya begitu mendekam dalam memori kanak-kanakku. Hingga kini, tiap kali melihat mercusuar, hanya satu yang melintas di benakku: Lima Sekawan. Sejak kecil, saya kerap berkhayal tiba-tiba menemukan dinding atau lemari yang bisa digeser menuju lorong rahasia. Atau ruang bawah tanah berisi peti-peti tua yang merupakan petunjuk ke sebuah misteri. Betapa serunya.

Tokoh idolaku adalah si tomboy Georgina yang lebih suka dipanggil George. Banyak literatur menyatakan, tokoh ini sebetulnya adalah gambaran Blyton kecil yang tomboy dengan kulit berbintik coklat dan memiliki anjing kesayangan, Laddie. Sama seperti George dengan Timmy-nya.

***

Selain lewat kisah detektif cilik, Enid Blyton juga merambah masa kecilku dengan serial asrama perempuan. Si Badung, Mallory Towers dan St Claire. Ketiga serial ini sebetulnya memiliki pola cerita yang sama. Anak-anak gadis dikirim ke asrama. Awalnya mereka memberontak dan berjanji akan sangat nakal sehingga dipulangkan ke rumah, namun semua berakhir manis. Mereka malah mencintai sekolah, teman-teman dan kehidupan asrama yang indah. Karakter utama di ketiga serial itu pada akhirnya menjadi Ketua Murid (semacam Ketua OSIS) di sekolah masing-masing. Blyton juga menjadi Ketua Murid di St Christopher’s School For Girls.

Imajinasi saya kian tak terbendung membaca serial gadis belia ini. Betapa iri saya pada mereka dan kehidupan asrama yang menyenangkan. Ada pesta tengah malam rahasia. Semua anak mengendap-endap membawa limun, biskuit jahe dan aneka kudapan dari dapur asrama ke tepi kolam renang atau ruang santai. Mereka tak boleh berisik dan begitu usai tak boleh membiarkan ruang berantakan atau makanan tercecer. Besar resikonya jika kepergok kepala sekolah yang galak atau murid yang tukang mengadu. Kisah-kisah para gadis di asrama ini sebetulnya adalah pengalaman Blyton tatkala bersekolah dulu.

Kini, meski saya tak tinggal di asrama, saya kerap diundang ke pesta teman di hall universitas. Suasanananya nyaris serupa dengan asrama yang digambarkan Blyton. Kami biasa berkumpul di dapur, membawa makanan sendiri-sendiri dan bercengkrama sambil tertawa-tawa hingga larut. Lumayan, bayangan masa kecil tentang pesta tengah malam sudah terwujud meski dalam rupa yang berbeda.

Saya tak hanya “iri” pada tokoh-tokoh rekaan Blyton, tapi pada si pengarang sendiri. Kekuatan Blyton bertahan di depan mesin tik — bukan komputer!– sangat menakjubkan. Ritual hariannya selalu sama: bangun pagi, mandi, memberi arahan pada para pembantunya di rumah dan kemudian terpaku di depan mesin ketik sehari penuh. Ia hanya berhenti untuk makan siang. Dalam masa-masa produktifnya, Blyton rata-rata menuliskan sepuluh ribu kata setiap hari. Suatu jumlah yang fantastis. Bahkan sebelum tahun 1940, seluruh karya Blyton lahir dari tulisan tangan.

***

Enid Mary Blyton lahir di sebuah flat mungil di East Dulwich, London pada 1897. Blyton kecil dan kemampuan membacanya sempat membuat ayahnya khawatir. Sejak umur enam tahun, ia telah melahap buku-buku di rak ayahnya. Termasuk ensiklopedia. Beranjak remaja, Blyton selalu membawa pensil dan kertas untuk menuangkan ilham yang datang tak kenal waktu.

Selulusnya dari St Christopher’s School for Girls di Beckenham, London, ia bersama dua sahabat membuat majalah amatir Dab. Di sinilah ia menuangkan cerita-cerita pendeknya. Blyton yang berumur empat belas tahun menarik perhatian Arthur Mee, penulis terkenal di masa itu. Sejak itu, Blyton mengembangkan sayap dan menulis di majalah terkemuka Nash. Cerita-ceritanya langsung digemari banyak khalayak.

Pada 1932, naskah novel Blyton sempat ditolak penerbit. Blyton yang saat itu telah berkibar sebagai penulis cerita pendek merasa sangat tertampar. Bayangkan, ia dianggap tak layak menulis novel! Untunglah ia tak memilih berhenti. Jika ia menyerah saat itu, Lima Sekawan dan ratusan judul bukunya tak akan pernah kita baca. Dan saya juga pasti takkan menuliskan kisah ini.

***

Setelah sukses menerbitkan bukunya, Blyton pada 1938 pindah ke Beckonsfield, Buckinghamshire — lokasi yang saya kunjungi bersama suami dengan sahabat kami, Miya dan Dominique. Di situlah ia berkarya hingga akhir hidupnya pada 1968. Saat pecah Perang Dunia II, Blyton sempat menggunakan nama samaran: Mary Pollock. Mary adalah nama kecilnya, Pollock adalah nama suami pertamanya Hugh Pollock.

Saat meluncurkan Lima Sekawan pada 1942, Blyton semula berniat menulis enam seri saja. Namun ternyata penggemar jatuh cinta pada para petualang muda ini. Surat-surat yang diterima Blyton –dan selalu dibalasnya sendiri– memintanya meneruskan kisah Lima Sekawan. Walhasil, terciptalah 21 judul. Film televisi dengan jumlah yang sama juga ditayangkan di aneka negara. Termasuk Indonesia. Saat saya masih di Sekolah Dasar, TVRI sempat menayangkan serial Famous Five yang membuat saya terpana setiap minggu.

Blyton adalah pengarang paling produktif yang pernah ada. Ia tercatat menghasilkan lebih dari enam ratus buku. Semuanya tentang anak dan remaja. Banyak ahli meneliti kesuksesan Blyton. Michael Woods, seorang ahli jiwa, membuat analisa menarik: Blyton adalah seorang anak, berpikir seperti anak dan menulis seperti anak!

Karya-karya Blyton telah diterjemahkan ke tujuh puluh bahasa. Dan hingga detik ini tetap menjadi tambang uang bagi penerbit. Pemegang hak ciptanya di Indonesia, Gramedia, masih terus mencetak edisi baru novel Blyton. Ia tak tenggelam meski sudah ada novel anak generasi baru yang juga berasal dari Inggris: Harry Potter.

***

Di Inggris, tiap bulan Mei diadakan Enid Blyton Day di tempat kelahirannya. Ratusan orang berkumpul untuk mengenang sang pengarang. Ada pameran barang-barang Blyton, penjualan benda-benda koleksi hingga pembacaan cerita dan diskusi. Anak atau cucu Blyton hadir membagi kisah tentang ibu atau nenek mereka. Tahun lalu, digelar acara pemilihan karakter favorit dalam buku-buku Blyton. Maka muncullah nama-nama Georgina (Lima Sekawan), Fatty (Pasukan Mau Tahu) dan Darrel Rivers (Mallory Towers).

Tak ketinggalan, Isle of Purbeck di Dorset selalu ramai dikunjungi para pecinta Blyton. Inilah Pulau Kirrin yang sebenarnya. Blyton belia memang kerap berlibur ke sini bersama anjingnya. Persis seperti George dan Timmy. Siapa sangka, kastil, gua, pantai dan aneka bangunan yang dikisahkannya dalam Lima Sekawan ternyata memang betul-betul ada. Sungguh saya mendambakan berpetualang ke sana. Siapa tahu, seperti para detektif rekaan Blyton, misteri akan datang menghampiri!