Pidato-pidato Barack Obama yang memukau dibuat oleh pemuda 27 tahun. Pernah bermasalah di Facebook.

ANAK muda itu duduk di Café Starbucks di Penn Quarter, Washington DC. Ia membentangkan laptop dan sesekali menyesap double espresso. Dengan jeans dan sweater, pria bertampang babyface itu tak ubahnya remaja biasa yang mungkin sedang melongok Facebook di komputernya.

Padahal, pemuda 27 tahun itu adalah salah satu orang terpenting di dunia. Dialah Jonathan Favreau, penulis pidato Presiden Amerika Serikat Barack Obama. Dari komputer jinjingnya ia melahirkan kalimat legendaris kampanye Obama: Yes We Can. Fav —panggilan akrabnya—kini menduduki jabatan resmi: Director of Speechwriting di Gedung Putih.

Posisi mentereng itu tak membuat alumnus Jurusan Ilmu Politik di College of the Holy Cross, Massachussets berubah. Ia tetap lebih nyaman bekerja di kafe atau di apartemen barunya –yang belum dilengkapi funiture– di Dupont Circle. Di kampus, Fav menjadi aktif di College Democrats dan aneka kegiatan sosial: Welfare Solidarity Project dan Habitat for Humanity.

Begitu lulus kuliah, Fav bergabung dengan tim kampanye John Kerry– kandidat Presiden Amerika Serikat 2004 dari Partai Demokrat. Ia memulai karir ini dengan tugas yang tak terlalu istimewa: merangkum berita-berita di media untuk bahan evaluasi tim kampanye.

John Kerry diumumkan sebagai kandidat presiden dari partai itu Dalam Konvensi Nasional Demokrat, 27 Juli 2004. Nah, keynote speaker dalam acara itu adalah senator dari Illinois, Barack Obama.

Menjelang naik podium, Obama berlatih di belakang panggung di Fleets Centre, Boston Massachussets. Tiba-tiba Favreau –baru 23 tahun– muncul dan menginterupsi: kalimat Anda tidak enak didengar dan perlu diganti. Barack dan timnya terperangah dan menatap ke anak muda bertampang culun dan tak meyakinkan itu: Anda siapa?

Barack rupanya sangat terkesan dengan pertemuan itu. Maka, tatkala maju sebagai calon presiden, ia pun menggamit Favreau. Pemuda itu sebetulnya sudah “patah hati” dengan politik sesudah kekalahan Kerry. Namun tawaran Obama, bagi Fav, adalah dream comes true yang tak mungkin ditampik.

“Barack sangat mempercayai Fav, “kata David Axelrod, salah satu penasehat utama Presiden Amerika. Padahal, sebagai orator ulung, Barack tak mudah meyakini orang lain membuatkan pidatonya.

Itu sebabnya, ketika menerima “lamaran” Obama, Jon menyatakan punya pekerjaan terbaik sekaligus terburuk di dunia. Ia menulis pidato untuk seseorang yang –tanpa bantuan siapapun— menulis dan berpidato dengan luar biasa dan memukau dunia. Tapi toh Fav tetap menunaikan tugas-tugasnya dengan baik.

Setiap akan membuat pidato, mereka pun berkolaborasi: Obama berbicara, Fav mengetik setiap kata yang terucap. Jon lalu menulis ulang omongan Barack dengan kata-katanya sendiri. Begitu selesai, Barack kadang langsung setuju, kadang mengirim balik via email untuk diperbaiki. Dan proses ini tak mengenal jam kerja. Seringkali Tuan Presiden mengirim surat elektronik untuk Fav pada ham 3 dini hari untuk segera direvisi.

Obama rupanya tak salah pilih. Ia menorehkan sejarah: menang di Negara Bagian Iowa – daerah mayoritas kulit putih yang sebelumnya diramalkan bakal dikuasai Hillary Clinton. Ini berkat orasi yang sangat menyentuh: They said this day would never come. Kalimat yang sama juga dilansir lagi dalam pidato kemenangan Barack Obama sebagai Presiden Amerika, Januari 2009.

Toh si pembuat kalimat “sakti” itu tetap santai. Fav yang kini lengket dengan artis Rashida Jones itu tetap rajin bergaul di Facebook. Desember lalu, ia tersandung masalah: seorang teman men-tag fotonya sedang meraba dada patung kertas Hillary Clinton dalam pesta thanksgiving. Fav segera minta maaf dan Hillary pun menyatakan: no need to worry.

Andari Karina Anom (Majalah TEMPO, 31 Juli 2009)