NAMANYA Bambang.  Saya bahkan tak tahu nama lengkapnya.  Meski namanya serupa dengan my big boss, Bambang Harymurti, tapi nasib mereka beda. Bambang yang satu ini office boy (OB) di kantorku. Setiap berpapasan denganku, dia selalu menyapa: pagi Mbak Karin, siang Mbak Karin, mau pulang Mbak Karin?.

Beberapa bulan lalu, dia mendatangiku. Dia minta tolong saya meminjam uang di kantor untuknya– atas nama saya. Dia berjanji akan membayarnya setiap bulan ke saya.  Jumlah yang diajukan lumayan besar (dan cicilan bulanannya bahkan lebih besar dari gajinya– bagaimana mungkin dia melunasi?). Dengan sopan saya menolak.

Pembicaraan berakhir sampai di situ. Bambang kembali bertugas seperti biasa.

Hingga kemarin, saya mendengar berita yang mengejutkan: istri Bambang meninggal karena TBC. Almarhumah baru berumur 28 tahun, meninggalkan suami dan dua anak: 5 dan 2 tahun. Tubuhku langsung kelu. Seketika air mataku berlinang-linang. Rupanya ini alasan Bambang pontang panting mencari pinjaman kesana kemari. Saya langsung merasa berdosa. I’m a very bad person.  Waktu itu saya bahkan tak bertanya untuk apa dia butuh uang sebegitu besar. Allah sudah mengetuk pintu saya lewat Bambang, tapi saya luput membacanya. Astagfirullahalazim.

Dalam hati saya sedikit ‘membela diri”: mengapa waktu itu Bambang tak terus terang? Seandainya dia bilang mengapa dia butuh uang besar, tentu akan lain ceritanya. Kalaupun tak bisa memberi uang, setidaknya saya bisa menggalang bantuan atau membuka akses ke dokter atau Rumah Sakit yang baik. Saya juga berusaha “menenangkan diri”: dia tentunya juga minta bantuan ke teman-teman lain di kantor, bukan cuma padaku.

Tapi, bahkan nurani saya menolak pembelaan itu: saya bersalah.  Saya berdosa. Apa susahnya waktu itu sekedar bertanya? Saya kan wartawan yang tugasnya sehari-hari bertanya, mengapa tidak bertanya? Ya Allah ampunilah aku.

Ajal memang di tangan Tuhan. Kalaupun waktu itu ada bantuan, bukan berarti bisa “menghidupkan” istri Bambang. Namun setidaknya dana itu bisa mempermudah pengobatan sang istri.

Bambang, maafkan saya. Aku hanya punya doa yang tulus untukmu–meski tak membuatku berhenti merasa bersalah. Ya Allah, karuniakanlah kepada Bambang dan anak-anaknya, kesehatan dan rezeki yang luas untuk melanjutkan hidup. Lapangkanlah jalan istri dan ibu mereka menghadap-Mu, ampunilah dosa-dosanya dan tempatkanlah ia di tempat terbaik di sisi-Mu. Dan bukakanlah mata dan hati kami untuk melihat “bambang-bambang” yang lain di sekeliling kami, Ya Allah ya hayyu ya qayyum.