X Men Origins: Wolverine, film prequel serial The X Men yang menyingkap masa lalu para jagoannya. Kurang “ngepop” dibandingkan Spiderman dan Batman.

BOCAH itu menggelegak dijerang amarah. Melihat ayahnya tersungkur ditikam belati, anak ingusan itu pun menumpahkan murka, mengoyak-ngoyak tubuh sang pembunuh. Pada detik itu, sebuah rahasia terkuak: tubuh mungil itu adalah manusia super. Sesosok mutan yang bisa membara jika terpantik dendam.

Jim Logan—kanak-kanak itu—pun tumbuh dewasa. Dengan kekuatan super itu, ia melanglang di berbagai medan tempur: Perang Dunia I, II hingga Perang Vietnam. Bersama sekelompok prajurit, Logan (Hugh Jackman) akhirnya bergabung di bawah komando Jenderal William Stryker (Danny Huston).

Inilah X Men Origins: Wolverine, film prequel serial X Men yang sudah menangguk sukses di kalangan pecinta komik Marvel. Kali ini, Marvel Entertainment dan Twentieth Century-Fox Film Corporation meluncurkan prequel—film pendahulu—yang menjelaskan asal usul masing-masing pahlawan super X Men. Film ini merupakan kilas balik salah satu X Men: Wolverine. Bagaimana asal muasal kekuatan sang superhero. Termasuk sisi-sisi humanis kehidupannya di masa lalu.

Kekerasan demi kekerasan membuat Logan mengundurkan diri dari band of soldiers dan memilih hidup “normal”. Ia menepi ke hutan dan bekerja sebagai penebang kayu dengan gaji paspasan. Logan hidup tenteram bersama kekasihnya, Kayla Silverfox (Lynn Collins), seorang guru cantik yang senang mendongeng sebelum bercinta.

Mungkin inilah hidup ideal yang diimpikan Logan. Semua serba damai dan ia tak perlu menyemburkan amarah –yang bisa meledakkan monster dalam dirinya. Namun bagi Stryker, kepergian Logan adalah pengkhianatan. Namun ia tak berhasil membujuk sang jagoan untuk pulang kandang.

Ketika Victor Creed (Liev Schreiber)– sesama bekas anak buah Stryker yang kelak menjadi Sabretooth, salah satu X Men– muncul dan menghabisi Kayla, kesumat Logan terbakar. Sisi beringas yang selama ini ia tutup rapat-rapat kembali meledak. Maka ia tak menampik tawaran Stryker yang berhasrat mengubahnya menjadi supermutan. Logan mendesis garang: “Lakukan apa saja, asalkan saya bisa membalas dendam.”

Maka, atas nama amarah, ia dengan sukarela masuk kamar operasi dan menjadi obyek eksperimen Stryker. Logan siap bertransformasi menjadi supermutan yang sanggup memberantas semua mutan yang pernah ada. Namun sayang, saat Stryker mencoba menghapus memori pasiennya, Logan tersadar dan kabur. Alih-alih berhimpun menggilas Victor, Logan dan Stryker malah makin jauh berseberangan.

Logan kini adalah Wolverine, sang mutan super. Dalam menjalankan misi menuntaskan dendam pada Victor, satu demi satu selubung misteri terkuak. Kian benderang siapa sekutu, siapa seteru. Setelah disuguhi kilas balik, penonton pun kembali diantar ke dunia X Men –yang sudah lebih dulu dilayarlebarkan.

Kilas balik asal muasal Wolverine ini juga membuka peluang bagi Hollywood untuk menciptakan film-film “turunan” dari X Men, yang berkisah tentang origins (asal muasal) para tokoh. Kini Wolverine, besok Sabretooth, dan seterusnya. Masih sederet karakter siap untuk disuguhkan ke penggemar X Men. Hal serupa yang juga sukses diterapkan di komiknya. X Men menciptakan “cabang-cabang” komik tentang karakter tokoh-tokohnya, termasuk kilas balik kehidupan mereka.

Seperti juga komiknya, Wolverine versi bioskop ini juga berhasil mengawinkan karakter yang kuat, cerita yang mengalir (baik laga maupun drama) dan –khusus untuk film– penggunaan special effect. Semua dalam proporsi yang pas. Serial X Men mungkin tak cukup “ngepop” seperti dua pendahulunya: Spiderman dan Batman (terutama yang terakhir: The Dark Knight) yang sangat-sangat sukses secara komersil.

Namun, sutradara Gavin Hood tetap mampu menyuguhkan film yang menghibur. Bahkan penonton yang bukan penggila komiknya pun tetap bisa duduk tenang hingga film usai. Dan itu bukan sekedar menikmati Hugh Jackman yang kekar!

Andari Karina Anom/ Majalah TEMPO 4 Mei 2009