Andari Karina Anom’s blog
SAYA tertambat pada Sophie Kinsella sejak menjamah Confessions of a Shopaholic pada 2003. Saya pun kecanduan. Terjerat. Terbius. Saya sudah menamatkan lima judul serial Shopaholic: Confessions of a Shopaholic, Shopaholic Abroad, Shopaholic Ties The Knot, Shopaholic and Sister dan Shopaholic and Baby. Saya juga sudah menuntaskan dua novel Kinsella lainnya: Can You Keep a Secret dan Do You Remember.
Novel-novel ini membuat saya belajar, terhibur dan bernostalgia. Belajar menceritakan sesuatu dengan “basah” — ini istilah kami di Tempo untuk mendeskripsikan sesuatu dengan sedetil-detilnya. Terhibur karena jalan ceritanya yang jenaka lagipula cerdas. Bernostalgia karena buku-buku itu berlatar ibukota Inggris. Saya serasa kembali menapaktilasi London setiap ia menyebut Tesco, WH Smith, Evening Standard, Charing Cross, Elephant and Castle, Natwest, Oyster Card, Eastender…
Maka ketika terbetik kabar Confessions of a Shopaholic difilmkan, saya pun melambungkan harapan setinggi langit. Di pekan pertama film ini diputar, saya dan my partner in crime, Tjut Riana, segera meluncur ke Blitz, Grand Indonesia.
Namun harapan tinggal harapan. Film ini sungguh mengacaukan segala-galanya. Alur ceritanya berubah tidak karuan dan sangat tidak fokus (ibarat sebuah tulisan yang tidak punya angle), karakter tokoh-tokohnya sama sekali berbeda dengan di buku, kejenakaan yang cerdas khas Kinsella berubah jadi humor slapstik yang sama sekali tidak lucu dan bodoh. Yang terburuk: setting London dengan semena-mena dipindah ke New York. Alasan produsernya, untuk kepentingan pengambilan gambar, toko-toko di New York lebih “layak disorot” dibandingkan London. Are you kidding me?
Saya merasa terkhianati. Memang, buku dan film adalah dua produk yang berbeda. Modifikasi, pengurangan atau penambahan bukan sebuah “dosa”. Saya sangat mahfum: bahasa tulis tak mungkin sama persis dengan bahasa gambar. Bahkan film legendaris sekelas The Godfather pun mengandung sejumlah penyelewengan jika dibandingkan novelnya. Toh dua-duanya tetap enak dinikmati karena jiwa sang buku tetap hidup di filmnya. Di Indonesia, film Laskar Pelangi juga menyisipkan sejumlah adegan yang tak ada di karya Andrea Hirata. Tapi, menurutku, hasilnya malah jauh lebih bagus dari novelnya dan –yang terpenting– tak membunuh nyawa si buku.
Saya sudah membaca Bridget Jones’ Diary dan The Devil Wears Prada –buku-buku bergenre sama dengan serial Shopaholic– sebelum menonton filmnya. Kedua film itu juga tak setia pada naskah buku. Tapi saya sebagai penonton sekaligus pembaca tak terlalu terganggu. Saya tetap merasa nyawa dari buku-buku itu tak hilang meski alurnya bergeser.
Tapi tidak dengan film Confession of a Shopaholic. Film ini sama sekali bukan versi layar lebar dari buku, tapi sebuah cerita yang sama sekali berbeda dan sangat mengecewakan. Tak kutemukan setitikpun “ruh” Kinsella dalam film ini. Saya menyesal pernah menontonnya!
nurani
March 21st, 2009 at 4:35 am
“Toko-toko di New York lebih layak disorot dr pada London” , tersinggung nihhh sebagai Londoner yg belum pernah ke New York *Grrrrrrrr*
Kayaknya kenal tuh sama pemasok bukunya, orang London kan ya
Kevin
March 22nd, 2009 at 7:38 am
Klo menurut pendapatku seh buku ma film kan gag harus sama jalan ceritanya. Tapi berhubung saya sendiri belum membaca novelnya, jadi gag bisa membandingkan novel sama filmnya. tapi menurutku filmnya sudah bagus, dengan catatan tidak melihat sisi novelnya. Kan film dan novel itu berdiri sendiri…