You can burn up our mosques and our homes and our schools

But our spirit will never die

We will not go down

In Gaza tonight

PETIKAN lagu itu begitu lekat di telinga pekan-pekan terakhir ini. Lagu yang melukiskan kepedihan rakyat Palestina itu kerap dipakai sebagai latar liputan perang Gaza . Tak hanya oleh stasiun televisi dan radio Indonesia , tapi di banyak negara.

Diluncurkan awal Januari lalu, We Will Not Go Down (Song for Gaza ) langsung diunggah ke situs youtube. Dalam dua pekan saja, lagu ini sudah diklik oleh 700 ribuan pengunjung. Jumlah ini kian bertambah hingga hari ini. Selain sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa, lagu ini disediakan untuk free download di internet. Namun, sebagian besar orang yang mengunduhnya dengan sukarela malah menyumbang ke UNRWA (United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees in the Near East).

Ini sesuai permintaan Michael Heart. Pencipta sekaligus penyanyi lagu terkenal itu. Lahir di Suriah, Heart tumbuh besar di beberapa negara— Switzerland, Austria dan Amerika Serikat. Selera musiknya mencerminkan kehidupan multikultur yang dilaluinya. Termasuk lagu solidaritasnya untuk Gaza ini.

Ia mulai bermain gitar dan piano di usia 10 tahun. Menginjak usia belasan, ia mulai menggubah lagu dan menyanyikannya sendiri. Lulus dari jurusan Teknik Audio (Audio Engineering) di Full Sail University, California, ia pindah ke Los Angeles pada 1990. Di rumahnya, ia membuka studio rekaman lokal dan menajamkan keahliannya sebagai gitaris dan teknisi rekaman.

Selama lebih dari 18 tahun ini, Heart telah bekerjasama dengan sejumlah artis terkemuka, antara lain: Al Jarreau, Natalie Cole, The Temptations, Phil Collins, Toto dan Will Smith. Kefasihan Michael berbahasa Perancis juga memuluskan kerjasamanya dengan sejumlah artis negara itu: Calogero (The Charts), Marc Lavoine dan Veronique Sanson. Ia juga pernah digandeng sejumlah produser, antara lain: David Foster. Meskipun kebanyakan pekerjaannya berkutat di studio, Michael juga berkeliling sebagai gitaris Flamenco dan juga bergabung dengan band smooth jazz bernama Jango.

Sejatinya, Michael Heart adalah nama panggung belaka. Sebagian besar karya Heart justru dilabeli nama aslinya: Annas Allaf. Inilah nama pemberian orangtuanya yang asli Suriah. Jika sebelumnya lebih banyak berjibaku di balik layar, Annas menuai perhatian dunia saat meluncurkan We Will… Januari lalu. Lagu ini melukiskan ngerinya situasi yang dialami warga Palestina di Gaza. Salah satu liriknya berbunyi: Women and children alike. Murdered and massacred night after night.

Ya, Tuan Allaf memang menunjukkan keberpihakannya dalam lagu itu. Tak heran jika ia tak hanya menuai puja-puji, tapi caci maki. Seorang warga Israel berang dan menuduh lagu Michael “tak akurat dan tak lengkap”. Menurutnya, dalam sebuah mimbar debat di internet, lagu itu sangat jelas menempatkan Hamas sebagai pahlawan sekaligus korban. Padahal, cukup banyak korban sipil Israel akibat serangan Hamas sebelumnya. “Michael hanya mengagung-agungkan kelompok teroris,”katanya.

Toh, kecaman itu tak menyurutkan popularitas Heart. CD terbarunya yang beraliran Pop/Rock berjudul Unsolicited Material kini banyak diputar di radio-radio Amerika, Michael juga menyuguhkan tema-tema serius. Misalnya: perzinahan (Living In Sin); perang (Damaged World) dan juga kekerasan rumah tangga (Finally Free).

Song for Gaza bukanlah lagu pertama yang terkenal karena momen perang. Sebelumnya, ada When The Children Cry yang dirilis White Lion pada 1987. Di awal 2003, saat Perang Irak, lagu ini dinyanyikan ulang dan mencapai puncak popularitas karena relevan dengan situasi perang. Generasi musisi yang lebih tua juga banyak yang mendendangkan lagu-lagu bertema Perang Vietnam .

Andari Karina Anom (Majalah TEMPO Edisi 26 Januari 2009)