Andari Karina Anom’s blog
SETIAP menonton TV, saya kadang kesal juga kalau terlalu sering terpotong iklan. Huuu iklan melulu. Kalau ada Mama di dekatku, dia pasti akan bilang: “Jangan protes dong, kamu kan dikasih makan dari iklan.” Benar juga. Bapak saya memang orang advertising. Artinya, asap dapur kami mengebul karena iklan.
Saya ingat cerita Bapak: pada 1 Januari 1981, Menteri Penerangan Ali Moertopo mengumumkan larangan penayangan iklan komersil di televisi –waktu itu cuma ada TVRI. Pariwara di TV yang dilabeli Manasuka Siaran Niaga itu dituduh membikin masyarakat konsumtif dan membeli yang tidak perlu. Ali Moertopo menyodorkan contoh: orang desa yang biasanya keramas dengan merang, karena terpapar iklan jadi “terpaksa” pakai Sunsilk.
Kata Bapak, dunia advertising tanah air waktu itu langsung babak belur. Dengan nilai advertising expenditure (belanja iklan) mencapai 60-70 persen dibanding media promosi lain, TV memang kilang duitnya biro -biro iklan. Melarang iklan di layar kaca sama saja membunuh mereka.
Perusahaan tempat Bapak bekerja –salah satu agency besar dunia– juga terjerembab. Kantor yang semula mentereng di Ratu Plaza terpaksa “turun kelas” ke Ruko di Pasar Benhil. Perusahaan pun melancarkan penghematan seketat-ketatnya. Bonus yang biasanya mengalir di sela tanggal gajian, berhenti sama sekali.
Untunglah Bapak tak termasuk rombongan yang kena PHK massal lantaran perusahaan kesulitan duit. Tapi toh, keluarga kami ikut terkibas efek buruknya: orangtua saya melakukan penghematan ini dan itu di rumah. Saya tak begitu ingat detilnya karena waktu itu baru kelas 1 SD. Tapi saya tahu, guncangan di dunia periklanan berpengaruh ke ekonomi “dalam negeri” keluargaku. Begitulah, saya memang “dikasih makan” oleh iklan.
Artinya, sepupuku yang ayahnya bekerja di Pupuk Sriwidjaya sama dengan “makan pupuk” alias hidup dari pupuk. Seorang teman yang anak pegawai Dinas Kebersihan Pemda DKI berarti “dikasih makan dari sampah”. Kalau begitu, anak dokter gigi sama dengan “cari makan dari mulut orang” dong . Ya, apapun sumber nafkah orangtua, makan iklan, pupuk, sampah atau apa saja, no problemo — asalkan bukan makan uang korupsi.
Saya bangga punya Bapak orang iklan Bukan karena bagus-jeleknya, bergengsi-tidaknya profesi itu, tapi karena dari situlah sumber penghasilannya untuk menghidupiku. Mudah-mudahan kelak anakku juga bisa bangga pada papa dan mamanya.
Jangan seperti adegan film Liar Liar yang dibintangi aktor Jim Carrey yang berperan sebagai pengacara. Di sekolah, anak pengacara ini ditanya gurunya: apa profesi ayahmu. Alih-alih bangga pada pekerjaan bapaknya, si anak malah menjawab lantang: My dad is a liar. Gurunya kaget: What?. Si anak menegaskan lagi: Liar. Itu lho, orang yang suka cuap-cuap di ruang pengadilan. Guru pun menghela nafas: Oh, you mean lawyer. Sang anak membalas: What’s the difference?
nurani
December 3rd, 2008 at 4:49 pm
anak wartawan makan kertas dong hahahaha…nah kalau anaknya pak ilo makan apa ya enaknya? apa dibilang makan udara..sbg bapaknya kerja “on air”
btw, dikau inget aja “Manasuka Siaran Niaga”…oh ya sbg dikasih makan iklan, inget dong yaa..lupaaa.
gw ikut bangga dong sebagai pemasok tas bagi Bapak hihihihi
Andari Karina Anom
December 4th, 2008 at 10:32 am
Anak wartawan berarti “makan berita” lah yaw. Asal bukan makan dari “menyebarkan fitnah dan aib orang”.
Anak Pak Ilo “makan poundsterling” kali ya, sbg gaji bapaknya nol-nya banyaaaak :D. Gajiku juga nol-nya banyak sih, tapi menggelinding semua. Hahaha..
*)Iin
December 31st, 2008 at 11:09 pm
smoga, anak anak kita makan dari harta yang halal orang tuanya ya rin….amin. gimana kabar si cantik rin..smoga sehat aja yaa…take care…dadada