Andari Karina Anom’s blog
AWAL Maret lalu, Aisha dan mamanya lulus ASI eksklusif enam bulan. Nah, seperti layaknya orang naik kelas, kami pun harus menghadapi ujian baru dalam urusan ASI: saya harus masuk rumah sakit. Ini operasi lanjutan setelah tindakan serupa tiga tahun lalu di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta Pusat.
Saya memang bisa menabung susu sebelum operasi. Namun, dalam waktu mepet, sulit memenuhi kebutuhan minum Aisha yang sangat banyak. Satu-satunya jalan adalah memerah di Rumah Sakit. Tapi, apakah mungkin? Saya sendiri pastinya akan bergelut dengan pemulihan pasca operasi. Belum lagi pengaruh obat-obatan yang mungkin mencemari ASI-ku.
Godaan pun datang dari berbagai penjuru: Aisha sudah 6 bulan ASI eksklusif. Susu formula bukan sebuah “dosa”. Saya sangat gundah: semudah inikah saya menyerah?
Setelah membolak-balik buku dan situs dr. Sears (”kiblat”-ku urusan bayi dan parenting), saya pun berdiskusi dengan dokterku di RSPAD. Saya “menawar” supaya diberi obat yang aman bagi ASI. Dokter pun memberi list obat-obatan untukku –oral dan suntik. Daftar obat itu lalu saya sampaikan ke pediatrik Aisha di RS. Asih, Kebayoran Baru. Betapa girangnya saya ketika si dokter anak bilang semua obat itu aman untuk ibu menyusui. Termasuk injeksi untuk bius total selama operasi. Alhamdulillah.
Maka, menjelang masuk RS, saya pun mulai menyetok ASI di kulkas. Setiap kali ada waktu lowong –bahkan tengah malam– saya langsung menyambar breastpump. Freezer pun langsung sesak dengan stok ASI. Tapi jumlahnya belum mencukupi untuk persediaan sepekan.
Hari H pun tiba. Syukurlah operasi berjalan lancar. Seusai pembedahan, saya langsung diboyong ke ruang ICU semalaman. Baru sadar penuh keesokan paginya. Begitu bangun, yang pertama melintas di kepalaku: ASI, ASI dan ASI.
Maka, dengan keterbatasan fisik, saya –dibantu suami dan seorang suster– memerah di ruang ICU. Biasanya, di ruangan itu hanya terdengar detak jam dan suara alat pengukur detak jantung (grafik naik turun di layar untuk memastikan pasien masih hidup). Tapi hari itu kami membuat kehebohan dengan suara breastpump yang menderum-derum.
Urusan perah memerah berlanjut sampai di kamar perawatan. Untunglah rumah kami relatif dekat dengan RS sehingga suamiku bisa pulang dua kali sehari menenteng susu segar untuk Aisha. Hasil perahan malam biasanya saya simpan di kulkas di Rumah Sakit untuk dibawa pagi-pagi.
Kondisiku belum seratus persen pulih pasca operasi. Masih belum bisa banyak bergerak untuk menghindari pendarahan dan resiko lainnya. Walhasil, suami dan mamaku yang bertindak. Saya tetap dalam posisi berbaring dengan kepala tempat tidur dinaikkan secara otomatis. Selanjutnya mereka berdua yang berurusan dengan breastpump. Meski susah dan sangat lama, kerjasama kami sukses.
Saya juga sering merasa sangat capek dan pening. Beranjak dari tempat tidur saja butuh perjuangan. apalagi memerah. Tapi, saya langsung ingat Aisha-ku. Semua kelelahan ini tidak ada artinya dibanding memberi yang terbaik untuknya. Kalau Mama bilang akan memberikanmu yang terbaik, itu artinya YANG TERBAIK, nak.
Satu minggu akhirnya berlalu. Tujuh hari terpanjang yang pernah ku rasakan karena terpisah dari anakku. Saya sangat bersyukur tetap bisa memberi ASI untuk Aisha. Kini, ia sudah 1 tahun 2 bulan dan Insya Allah tetap tak “ternoda” susu formula. Modalnya cuma niat dan percaya diri –sesulit apapun itu. Breastfeeding is a mind game. Believe that you can make enough milk and you will.
*)Iin
October 27th, 2008 at 3:57 am
I am so proud of you rin…smoga Alloh memudahkan karin dan mas tomi memberikan yang terbaik buat aisha, amin. salam sayang dari kami di sini buat karin, mas tomi dan si cantik ya..dadada
Andari Karina Anom
November 22nd, 2008 at 4:30 pm
Thanks, In. Aku kan berguru pada mamanya YYI yg bisa membesarkan anak2 sehat dan saleh
Mudah2an aku bisa seperti itu juga… Amiiiin…
ita
February 4th, 2009 at 11:14 pm
dear Karin, aku juga dulu kasih asi selama dua tahun buat tia dan brenden meskipun mereka beda jauh tia lahir 82 dan brenden 91, sama sama dapat susu ekslusif alhamdullilah itu anak nggak pernah sakit dan insyaallah pada cerdas, makanya aku juga ingat soal memerah susu udah pengalaman dan aku pilih kasih mereka air putih ketibang susu kaleng, coba dech