Saya juga ingat seorang teman yang mendamprat seorang wanita di Le Gourmet Cake Shop, Pondok Indah Mall, di malam Takbiran lalu. Gara-garanya: saat antrian membeli kue sudah mengular –maklum besok mau Lebaran– eh perempuan itu malah berlama-lama di meja kasir: bertanya ini itu (yang sebetulnya sudah jelas terpampang di daftar menu), meminta kue dengan special request, lalu berbingung ria memilih yang mana (Lha dari tadi ngantri ngapain aja, Mbak? Update status Facebook?).
Kejadian-kejadian itu mengingatkan saya pada tayangan Oprah Winfrey Show akhir tahun lalu. Temanya: “Are You Rude?”. Dalam konteks Indonesia, saya terjemahkan sebagai: “Sopankah Anda?”. Oprah membeberkan sebuah survei di Amerika pada akhir 2008 tentang perilaku tidak sopan yang “tak termaafkan”– tapi sering dilakukan orang. And, guess what, di urutan pertama adalah: menyerobot antrian!
Beberapa kelakuan lain yang juga masuk dalam daftar tidak sopan versi survei Oprah:
Malu rasanya, semua yang disebutkan itu akrab dengan keseharian kita di Jakarta– kalau tidak mau dibilang lebih parah. Berdasarkan survei ini, 80 persen orang Amerika menganggap rudeness (ketidaksopanan) adalah “serious national problem”. Kalau orang Amerika saja menganggap masyarakatnya bermasalah dengan sopan santun, apa jadinya kalau survei serupa dibikin di sini.
]]>**
PINTU kayu itu sederhana saja: bercat hitam polos dengan ”bel” tradisional berbentuk kepala macan tepat di atas lubang surat. Di bagian atas, tertempel angka 10 yang terbuat dari tembaga kuning mengkilap.
Itulah pintu paling terkenal seantero Inggris dan mungkin di dunia. Di Downing Street No. 10 inilah Perdana Menteri Inggris tinggal dan berkantor selama dua ratus tahun lebih. Ia menjadi saksi Britania Raya melayari sejarahnya. Pada Selasa pekan lalu, giliran Gordon Brown, 54 tahun, melangkah melewati ambangnya. Kali ini mantan menteri keuangan ini menjadi penghuni ke-52.
Perdana menteri berkantor di lantai satu dan tinggal bersama keluarga di lantai dua. Margaret Thatcher, perdana menteri periode 1979-1990, mengibaratkannya bagai ”tinggal di atas toko”: ia selalu bisa dihubungi dan bertugas meskipun ”toko” tutup. Di balik pintu ini, ada beberapa ruangan yang terkenal. Ada Entrance Hall, tempat menyambut tamu, dari pemimpin negeri sampai bintang film. Ada pula Cabinet Room, tempat perdana menteri mengadakan rapat dengan stafnya setiap Kamis—kecuali pada masa Perang Dunia II dan ketika Downing Street direnovasi total.
Hollywood menambah terkenal ruang-ruang itu lewat beberapa filmnya. Salah satunya, film komedi romantis Love Actually. Selain menikmati akting bintang ganteng Hugh Grant sebagai Perdana Menteri Inggris, penonton juga disuguhi ”isi perut” Downing Street: dari Cabinet Room hingga kamar tidur perdana menteri. Dalam film The Queen, penonton juga bisa ”masuk” sampai ruang-ruang terdalam di Number Ten. Semua serupa dengan aslinya.
Downing Street sejatinya adalah sebuah ”gang” di Jalan Raya Whitehall, City of Westminster, London. Hanya sepelemparan batu dari Gedung Parlemen yang terkenal dengan lonceng raksasanya dan Istana Buckingham, inilah kawasan pusat pemerintahan Inggris.
Alkisah, pada 1732, Raja George II menghadiahkan rumah itu kepada Robert Walpole atas pengabdian perdana menteri pertama Inggris itu kepada bangsa. Walpole mau menerima tapi bukan untuk pribadi melainkan sebagai kantor dan rumah dinas. Ia memboyong keluarganya bermukim di sini. Tradisi inilah yang dipertahankan hingga kini.
Meski terletak di lokasi strategis, Downing Street No. 10 ketika itu bukanlah tempat tinggal yang baik dan menyenangkan. Ukurannya relatif kecil, konstruksi bangunannya buruk dan pemeliharaannya butuh biaya besar. Pada masa itu, perdana menteri mesti merogoh kocek pribadi untuk merenovasi rumah dinas ini. Mereka juga harus memboyong perabot sendiri. Tak mengherankan jika beberapa perdana menteri enggan menempati rumah itu. Number Ten sempat dibiarkan kosong selama 30 tahun lebih.
Baru pada 1783, William Pitt—perdana menteri termuda Inggris, yang dilantik pada usia 24 tahun—merombak dan memperlebar rumah itu hingga layak huni. Pitt jugalah yang pertama kali memasang pintu hitam bertuliskan angka 10 yang kemudian menjadi sangat terkenal. Dialah perdana menteri terlama, 19 tahun, yang menghuni rumah dinas itu.
Zaman bergulir, situasi ekonomi dan politik pun berubah. Maka, pada 1940-an, Downing Street No. 10 tak hanya menjadi rumah dinas, tapi juga kantor perdana menteri. Para penghuninya tak perlu lagi membuka dompet sendiri untuk mengurus rumah. Semua sudah disediakan negara lewat Government Hospitality Fund. Para pejabat diizinkan menghias rumah dengan berbagai benda seni menurut selera mereka.
Tentu saja, meski dari luar hanya berupa sebilah pintu, bangunan ini sejatinya melebar ke kiri, kanan, dan belakang. Kendati begitu, Perdana Menteri Harold Wilson pada 1974 hingga 1976 tak mau tinggal di sini. Namun, untuk menghindari kritik pers, ia berpura-pura tinggal di Number Ten. Setiap disorot media, ia masuk lewat pintu depan dan keluar lagi lewat pintu belakang dan pulang ke rumahnya sendiri yang juga di Central London.
Number Ten juga menorehkan sejarah penting pada masa Perang Dunia II. Dari Cabinet Room, Perdana Menteri Winston Churchill memimpin negaranya saat perang melawan Jerman pada 1940. Tatkala London dihujani bom, pusat pemerintah dipindahkan ke ruang bawah tanah yang dibangun secara darurat. Bangunan tambahan ini terhubung langsung ke kamar Churchill dan Cabinet Room. Setelah Inggris menggapai kemenangan atas Jerman, Churchill dan keluarga kembali menempati Number Ten.
Pada 1948, ruangan sementara itu pun dipermanenkan dan dilindungi untuk merekam kejayaan Inggris. Pada 1981, Perdana Menteri Margaret Thatcher membukanya untuk publik sebagai The Churchill Museum. Di situs bersejarah ini jugalah disimpan pintu asli Downing Street bertuliskan angka 10. Pintu yang sekarang kita lihat hanyalah replikanya.
Churchill memang Perdana Menteri Inggris paling masyhur. Hingga kini patungnya berdiri tegak di taman depan Gedung Parlemen dan Gereja Westminster, tak jauh dari Number Ten.
Sebagai markas pemerintah, Downing Street juga kerap menjadi sasaran bom dan kekerasan. Pada 1918, ancaman datang dari para pendukung kemerdekaan Irlandia. Pada 14 Oktober 1940 itu, ketika Churchill sedang bersantap, Jerman menjatuhkan bom. Ledakan ini merusak dapur dan State Room serta membunuh tiga pegawai. Pada masa Thatcher, ancaman datang dari kelompok teroris Irlandia, IRA.
Sejak saat itu, pagar tinggi dari baja pun dibangun di tiap sudut Downing Street. Namun, justru pada masa John Major—pengganti Thatcher—bom meledak di taman rumah itu. Untunglah Major selamat. Sejak saat itu, pengamanan Downing Street kian diperketat.
Memang, meski dari luar rumah ini tetap tampak tradisional, pengamanannya sangatlah ketat. Selain tamu-tamu yang terdaftar, orang tak bisa mendekat hingga ke depan pintu No. 10. Puluhan polisi dengan seragam hitam-hitam berkeliaran di seputar Downing Street. Supaya tak terjadi kerumunan, orang yang lalu-lalang harus terus berjalan, tak boleh berhenti. Para turis paling-paling hanya sempat menjepret sejenak untuk kemudian disuruh kembali berjalan.
Pada masa Tony Blair, Number Ten sering didatangi demonstran yang memprotes dukungan Inggris pada Perang Irak—kebijakan Blair yang paling tidak populer.
Kini, Gordon Brown siap membuka lembaran baru sebagai sahibul bait di Downing Street Nomor 10. Memang, secara fisik ia hanya bergeser satu pintu dari rumah dinasnya sebagai menteri keuangan di Downing Street No. 11. Namun sejatinya ada yang lebih besar dari ”sekadar pindah rumah”: melanjutkan tradisi kepemimpinan di Inggris Raya. Dunia berharap banyak padanya.
Andari Karina Anom (BBC, The Guardian, www.number-10.gov.uk)
]]>***
LIVERPOOL membentang di ujung kakiku. Pelabuhan Merseyside di pusat kota tak hanya menerbangkan angin yang meniup-niup rambutku tapi juga sebait lagu Yellow Submarine: in the town where i was born… Kapal selam kuning dalam lagu itu terdampar dengan megah di depan saya sebagai tugu di tengah Chavasse Park. Ya, saya berada di kota kelahiran John Lennon, Paul Mc Cartney, George Harrison dan Ringo Starr.
Inilah kota Liverpool, lima jam perjalanan darat dari London. Ia salah satu kota besar di Inggris selain London, Birmingham dan Manchester. Kota berpenduduk 470.000 jiwa ini terletak di barat laut Inggris, di bibir pelabuhan kawasan Merseyside. Kota pelabuhan ini tengah berusaha mencapai citra baru di tahun 2008 sebagai ibukota peradaban Eropa. Di dunia, ia juga terkenal sebagai rumah bagi dua tim sepakbola terkenal Inggris, Liverpool dan Everton FC.
Di atas segala popularitasnya, Liverpool adalah Beatles. Begitupun sebaliknya. Tak ada kota yang memuja warganya melebihi pemujaan Liverpool pada The Beatles. Meski menyimpan sejarah sebagai kota pelabuhan dan industri yang jaya di masa lalu Inggris dan Eropa, aset utama kota ini tetaplah empat pemuda lokal yang mendunia sejak 1960 hingga detik ini Meski dua di antaranya –Lennon dan Harrison — telah tiada, Beatles tak pernah mati. Mereka akan selalu hidup dan menyambut siapapun yang datang ke Liverpool.
Yang datang lewat udara akan mendarat di John Lennon International Airport — satu-satunya bandara di Britania Raya yang memakai nama orang– dengan motonya above us only sky yang disitir dari lagu Imagine. Yang berlabuh dengan kapal akan tiba di Merseyside, lokasi The Beatles Story Museum. Kami yang berkendara dari Manchester disongsong plang bertuliskan Welcome to Liverpool, The Beatles City. Lengkap dengan bis kota yang lalu lalang dengan tujuan Penny Lane, Strawberry Fields dan tempat-tempat beraroma Beatles lainnya.
Saya dan suami bergabung dengan tur The Beatles: Magical Mystery Tour, judul lagu dan film mereka yang tak terlupakan. Kami menaiki bis replika dari bis yang mereka pakai dalam film pada 1967. Bis yang asli kini menjadi memorabilia di Hard Rock Café, Miami, sedangkan bis duplikat yang kami tumpangi ini pernah tampil dalam video klip Free As A Bird lagu yang tidak berasal dari salah satu album Beatles dan baru dirilis sebagai single pada 1995, lama setelah kelompok ini tak aktif lagi. Di tiket yang kami beli tertera Ticket To Ride. Tatkala lagu-lagu Beatles menderu-deru di dalam bis, kami betul-betul menjadi bagian dari The Beatles hari ini. Roll up… Roll up for the mystery tour!
Kami menjelajah jejak keempat personil Beatles. Rumah kelahiran, sekolah, tempat tinggal hingga lokasi-lokasi bersejarah lainnya. Tiap lokasi menjadi jejak yang tak padam oleh waktu. Lennon dan McCartney bahkan telah menyerahkan rumah mereka untuk dikelola National Trust sebagai obyek sejarah kota. Sebuah taman di tengah kota dinamai George Harrison Memorial Park setelah si pemilik nama meninggal tiga tahun silam. Area di sekitar tempat tinggal Ringo Starr kini dinamai Ringoland oleh pemerintah kota. Bis menggelinding terus ke lokasi yang menjadi tema lagu mereka semisal Penny Lane, patung Eleanor Rigby, taman Strawberry Fields Forever.
Yang juga sangat berkesan adalah perjalanan ke The Cavern Club, pub tempat The Beatles pertamakali tampil. Kecuali bilangan tahun, tak ada yang berubah dari pub ini. Panggung dan dekorasi ruang di sebuah pojok dua lantai di bawah tanah yang dipertahankan sesuai aslinya dulu, termasuk poster-poster lama. Turis yang tentu sebagian besar adalah fans The Beatles berlomba-lomba berfoto di panggung itu. Saya berada di pub yang setiap lekuknya saya ingat lewat adegan film A Hard Day’s Night. Memorabilia tentang the fab four ini dipajang dengan cantik di sini. Tak ketinggalan The Beatles Shop yang menjual aneka pernak-pernik Beatles yang tak Anda temukan di tempat lain di Inggris. Kami menjinjing sebuah tas bergambar wajah empat personil Beatles berlatar biru.
Kawasan sekitar Matthew Street itu kini dinamai Cavern Walk dan hampir seluruh toko di situ bernuansa The Beatles. Patung Lennon bersandar di dinding bata Cavern Pub yang setiap kepingnya bertuliskan nama-nama besar pemusik yang pernah manggung di dalamnya, dari The Beatles hingga kelompok generasi baru Oasis yang berasal dari Manchester, kota tetangga Liverpool. Satu bangunan menjulang kini tengah dipersiapkan menjadi A Hard Day’s Night Hotel yang rencananya rampung tahun depan, khusus bagi penggemar Beatles. Ah, Beatles memang “pemilik” kota ini.
Kami meninggalkan Liverpool menjelang senja. Tidak dengan bis Magical Mystery Tour tapi dengan suasana hati yang lebih dari magic. Lagu Hello Goodbye yang berkumandang di pusat turis di tengah kota bagai mewakili perasaan kami yang belum mau berpisah dengan kota Beatles ini. I don’t know why you say goodbye I say hello…
]]>***
BRITANIA Raya menjejali masa kanak-kanakku. Negeri ini hadir di kamar saya setiap hari. Lewat serial Lima Sekawan, Pasukan Mau Tahu, Sapta Siaga hingga Mallory Towers dan St Claire. Terimakasih kepada Enid Blyton, sang pengarang, yang telah menghadirkan Inggris di masa beliaku.
Dan, dua pekan lalu, bagaikan mimpi, saya “bertemu” Blyton di rumahnya yang ia namai Green Hedges di Beaconsfield, Buckinghamshire, sekitar satu jam berkereta dari London. Meski bukan sosok aslinya –dia telah berpulang lebih dari 30 tahun silam— dan hanya rumah replikanya yang saya jumpai di Bekonscot Village, saya cukup berpuas hati. Dengan rasa kagum tiada tara, saya menatap boneka Blyton liliput yang mengetik di halaman belakang rumahnya itu.
Ingatan saya langsung berkelana ke aneka petualangan mendebarkan yang saya lalui bersama Lima Sekawan, Pasukan Mau Tahu dan Sapta Siaga. Semua gambaran dalam novel-novelnya menjelma di hadapan saya tiap kali bertandang ke kota-kota kecil di luar London. Meski ditulis sejak 1920-an, gambaran Blyton tentang kota-kota kecil Inggris itu nyaris tak berubah hingga kini.
Tiap kali melihat polisi, saya langsung teringat Pak Goon, polisi desa dalam Pasukan Mau Tahu. Tepat betul cara Blyton menggambarkan topi hitam tinggi dan sepeda polisi dengan bel berdering-dering. Tokoh-tokoh dalam cerita Blyton memang diambil dari kesehariannya. Tokoh Inspektur Jenks, atasan Pak Goon dalam serial yang sama, memang ada di dunia nyata: Inspektur Stephen Jenning, polisi yang pertamakali membentuk sistem pengamanan model Siskamling di kawasan Beaconsfield.
Pola kisah detektif cilik dalam karya-karya Blyton umumnya senada seirama. Anak-anak belasan tahun yang bersekolah di kota bertualang bersama anjing mereka.Tiap liburan musim panas atau musim dingin, mereka bertamasya ke suatu tempat. Lima Sekawan paling hobi ke Pulau Kirrin. Sementara Pasukan Mau Tahu lebih suka tinggal di desa dan melakukan sesuatu yang asyik semisal pergi ke pasar malam, nonton teater boneka atau berkemah.
Dan, petualangan selalu menghampiri mereka. Seperti kata Fatty, si gendut dalam Pasukan Mau Tahu, “Aku tak pernah mencari-cari misteri. Misterilah yang mendatangiku.” Fatty dan kawan-kawannya bertualang dalam belasan judul. Dari Misteri Pangeran Asing, Misteri Rumah Setan hingga Misteri Teater Kecil. Lain lagi Julian, Dick, Anne beserta George dan anjingnya Timmy selalu “tanpa sengaja” bertemu dengan misteri di lebih dari 20 judul buku. Memburu Kereta Api Hantu, Rahasia Lorong Pencoleng hingga Misteri Pulau Seram.
Gambaran tentang Pulau Kirrin dan mercusuar tuanya begitu mendekam dalam memori kanak-kanakku. Hingga kini, tiap kali melihat mercusuar, hanya satu yang melintas di benakku: Lima Sekawan. Sejak kecil, saya kerap berkhayal tiba-tiba menemukan dinding atau lemari yang bisa digeser menuju lorong rahasia. Atau ruang bawah tanah berisi peti-peti tua yang merupakan petunjuk ke sebuah misteri. Betapa serunya.
Tokoh idolaku adalah si tomboy Georgina yang lebih suka dipanggil George. Banyak literatur menyatakan, tokoh ini sebetulnya adalah gambaran Blyton kecil yang tomboy dengan kulit berbintik coklat dan memiliki anjing kesayangan, Laddie. Sama seperti George dengan Timmy-nya.
***
Selain lewat kisah detektif cilik, Enid Blyton juga merambah masa kecilku dengan serial asrama perempuan. Si Badung, Mallory Towers dan St Claire. Ketiga serial ini sebetulnya memiliki pola cerita yang sama. Anak-anak gadis dikirim ke asrama. Awalnya mereka memberontak dan berjanji akan sangat nakal sehingga dipulangkan ke rumah, namun semua berakhir manis. Mereka malah mencintai sekolah, teman-teman dan kehidupan asrama yang indah. Karakter utama di ketiga serial itu pada akhirnya menjadi Ketua Murid (semacam Ketua OSIS) di sekolah masing-masing. Blyton juga menjadi Ketua Murid di St Christopher’s School For Girls.
Imajinasi saya kian tak terbendung membaca serial gadis belia ini. Betapa iri saya pada mereka dan kehidupan asrama yang menyenangkan. Ada pesta tengah malam rahasia. Semua anak mengendap-endap membawa limun, biskuit jahe dan aneka kudapan dari dapur asrama ke tepi kolam renang atau ruang santai. Mereka tak boleh berisik dan begitu usai tak boleh membiarkan ruang berantakan atau makanan tercecer. Besar resikonya jika kepergok kepala sekolah yang galak atau murid yang tukang mengadu. Kisah-kisah para gadis di asrama ini sebetulnya adalah pengalaman Blyton tatkala bersekolah dulu.
Kini, meski saya tak tinggal di asrama, saya kerap diundang ke pesta teman di hall universitas. Suasanananya nyaris serupa dengan asrama yang digambarkan Blyton. Kami biasa berkumpul di dapur, membawa makanan sendiri-sendiri dan bercengkrama sambil tertawa-tawa hingga larut. Lumayan, bayangan masa kecil tentang pesta tengah malam sudah terwujud meski dalam rupa yang berbeda.
Saya tak hanya “iri” pada tokoh-tokoh rekaan Blyton, tapi pada si pengarang sendiri. Kekuatan Blyton bertahan di depan mesin tik — bukan komputer!– sangat menakjubkan. Ritual hariannya selalu sama: bangun pagi, mandi, memberi arahan pada para pembantunya di rumah dan kemudian terpaku di depan mesin ketik sehari penuh. Ia hanya berhenti untuk makan siang. Dalam masa-masa produktifnya, Blyton rata-rata menuliskan sepuluh ribu kata setiap hari. Suatu jumlah yang fantastis. Bahkan sebelum tahun 1940, seluruh karya Blyton lahir dari tulisan tangan.
***
Enid Mary Blyton lahir di sebuah flat mungil di East Dulwich, London pada 1897. Blyton kecil dan kemampuan membacanya sempat membuat ayahnya khawatir. Sejak umur enam tahun, ia telah melahap buku-buku di rak ayahnya. Termasuk ensiklopedia. Beranjak remaja, Blyton selalu membawa pensil dan kertas untuk menuangkan ilham yang datang tak kenal waktu.
Selulusnya dari St Christopher’s School for Girls di Beckenham, London, ia bersama dua sahabat membuat majalah amatir Dab. Di sinilah ia menuangkan cerita-cerita pendeknya. Blyton yang berumur empat belas tahun menarik perhatian Arthur Mee, penulis terkenal di masa itu. Sejak itu, Blyton mengembangkan sayap dan menulis di majalah terkemuka Nash. Cerita-ceritanya langsung digemari banyak khalayak.
Pada 1932, naskah novel Blyton sempat ditolak penerbit. Blyton yang saat itu telah berkibar sebagai penulis cerita pendek merasa sangat tertampar. Bayangkan, ia dianggap tak layak menulis novel! Untunglah ia tak memilih berhenti. Jika ia menyerah saat itu, Lima Sekawan dan ratusan judul bukunya tak akan pernah kita baca. Dan saya juga pasti takkan menuliskan kisah ini.
***
Setelah sukses menerbitkan bukunya, Blyton pada 1938 pindah ke Beckonsfield, Buckinghamshire — lokasi yang saya kunjungi bersama suami dengan sahabat kami, Miya dan Dominique. Di situlah ia berkarya hingga akhir hidupnya pada 1968. Saat pecah Perang Dunia II, Blyton sempat menggunakan nama samaran: Mary Pollock. Mary adalah nama kecilnya, Pollock adalah nama suami pertamanya Hugh Pollock.
Saat meluncurkan Lima Sekawan pada 1942, Blyton semula berniat menulis enam seri saja. Namun ternyata penggemar jatuh cinta pada para petualang muda ini. Surat-surat yang diterima Blyton –dan selalu dibalasnya sendiri– memintanya meneruskan kisah Lima Sekawan. Walhasil, terciptalah 21 judul. Film televisi dengan jumlah yang sama juga ditayangkan di aneka negara. Termasuk Indonesia. Saat saya masih di Sekolah Dasar, TVRI sempat menayangkan serial Famous Five yang membuat saya terpana setiap minggu.
Blyton adalah pengarang paling produktif yang pernah ada. Ia tercatat menghasilkan lebih dari enam ratus buku. Semuanya tentang anak dan remaja. Banyak ahli meneliti kesuksesan Blyton. Michael Woods, seorang ahli jiwa, membuat analisa menarik: Blyton adalah seorang anak, berpikir seperti anak dan menulis seperti anak!
Karya-karya Blyton telah diterjemahkan ke tujuh puluh bahasa. Dan hingga detik ini tetap menjadi tambang uang bagi penerbit. Pemegang hak ciptanya di Indonesia, Gramedia, masih terus mencetak edisi baru novel Blyton. Ia tak tenggelam meski sudah ada novel anak generasi baru yang juga berasal dari Inggris: Harry Potter.
***
Di Inggris, tiap bulan Mei diadakan Enid Blyton Day di tempat kelahirannya. Ratusan orang berkumpul untuk mengenang sang pengarang. Ada pameran barang-barang Blyton, penjualan benda-benda koleksi hingga pembacaan cerita dan diskusi. Anak atau cucu Blyton hadir membagi kisah tentang ibu atau nenek mereka. Tahun lalu, digelar acara pemilihan karakter favorit dalam buku-buku Blyton. Maka muncullah nama-nama Georgina (Lima Sekawan), Fatty (Pasukan Mau Tahu) dan Darrel Rivers (Mallory Towers).
Tak ketinggalan, Isle of Purbeck di Dorset selalu ramai dikunjungi para pecinta Blyton. Inilah Pulau Kirrin yang sebenarnya. Blyton belia memang kerap berlibur ke sini bersama anjingnya. Persis seperti George dan Timmy. Siapa sangka, kastil, gua, pantai dan aneka bangunan yang dikisahkannya dalam Lima Sekawan ternyata memang betul-betul ada. Sungguh saya mendambakan berpetualang ke sana. Siapa tahu, seperti para detektif rekaan Blyton, misteri akan datang menghampiri!
]]>
ANAK muda itu duduk di Café Starbucks di Penn Quarter, Washington DC. Ia membentangkan laptop dan sesekali menyesap double espresso. Dengan jeans dan sweater, pria bertampang babyface itu tak ubahnya remaja biasa yang mungkin sedang melongok Facebook di komputernya.
Padahal, pemuda 27 tahun itu adalah salah satu orang terpenting di dunia. Dialah Jonathan Favreau, penulis pidato Presiden Amerika Serikat Barack Obama. Dari komputer jinjingnya ia melahirkan kalimat legendaris kampanye Obama: Yes We Can. Fav —panggilan akrabnya—kini menduduki jabatan resmi: Director of Speechwriting di Gedung Putih.
Posisi mentereng itu tak membuat alumnus Jurusan Ilmu Politik di College of the Holy Cross, Massachussets berubah. Ia tetap lebih nyaman bekerja di kafe atau di apartemen barunya –yang belum dilengkapi funiture– di Dupont Circle. Di kampus, Fav menjadi aktif di College Democrats dan aneka kegiatan sosial: Welfare Solidarity Project dan Habitat for Humanity.
Begitu lulus kuliah, Fav bergabung dengan tim kampanye John Kerry– kandidat Presiden Amerika Serikat 2004 dari Partai Demokrat. Ia memulai karir ini dengan tugas yang tak terlalu istimewa: merangkum berita-berita di media untuk bahan evaluasi tim kampanye.
John Kerry diumumkan sebagai kandidat presiden dari partai itu Dalam Konvensi Nasional Demokrat, 27 Juli 2004. Nah, keynote speaker dalam acara itu adalah senator dari Illinois, Barack Obama.
Menjelang naik podium, Obama berlatih di belakang panggung di Fleets Centre, Boston Massachussets. Tiba-tiba Favreau –baru 23 tahun– muncul dan menginterupsi: kalimat Anda tidak enak didengar dan perlu diganti. Barack dan timnya terperangah dan menatap ke anak muda bertampang culun dan tak meyakinkan itu: Anda siapa?
Barack rupanya sangat terkesan dengan pertemuan itu. Maka, tatkala maju sebagai calon presiden, ia pun menggamit Favreau. Pemuda itu sebetulnya sudah “patah hati” dengan politik sesudah kekalahan Kerry. Namun tawaran Obama, bagi Fav, adalah dream comes true yang tak mungkin ditampik.
“Barack sangat mempercayai Fav, “kata David Axelrod, salah satu penasehat utama Presiden Amerika. Padahal, sebagai orator ulung, Barack tak mudah meyakini orang lain membuatkan pidatonya.
Itu sebabnya, ketika menerima “lamaran” Obama, Jon menyatakan punya pekerjaan terbaik sekaligus terburuk di dunia. Ia menulis pidato untuk seseorang yang –tanpa bantuan siapapun— menulis dan berpidato dengan luar biasa dan memukau dunia. Tapi toh Fav tetap menunaikan tugas-tugasnya dengan baik.
Setiap akan membuat pidato, mereka pun berkolaborasi: Obama berbicara, Fav mengetik setiap kata yang terucap. Jon lalu menulis ulang omongan Barack dengan kata-katanya sendiri. Begitu selesai, Barack kadang langsung setuju, kadang mengirim balik via email untuk diperbaiki. Dan proses ini tak mengenal jam kerja. Seringkali Tuan Presiden mengirim surat elektronik untuk Fav pada ham 3 dini hari untuk segera direvisi.
Obama rupanya tak salah pilih. Ia menorehkan sejarah: menang di Negara Bagian Iowa – daerah mayoritas kulit putih yang sebelumnya diramalkan bakal dikuasai Hillary Clinton. Ini berkat orasi yang sangat menyentuh: They said this day would never come. Kalimat yang sama juga dilansir lagi dalam pidato kemenangan Barack Obama sebagai Presiden Amerika, Januari 2009.
Toh si pembuat kalimat “sakti” itu tetap santai. Fav yang kini lengket dengan artis Rashida Jones itu tetap rajin bergaul di Facebook. Desember lalu, ia tersandung masalah: seorang teman men-tag fotonya sedang meraba dada patung kertas Hillary Clinton dalam pesta thanksgiving. Fav segera minta maaf dan Hillary pun menyatakan: no need to worry.
Andari Karina Anom (Majalah TEMPO, 31 Juli 2009)
]]>
Beberapa bulan lalu, dia mendatangiku. Dia minta tolong saya meminjam uang di kantor untuknya– atas nama saya. Dia berjanji akan membayarnya setiap bulan ke saya. Jumlah yang diajukan lumayan besar (dan cicilan bulanannya bahkan lebih besar dari gajinya– bagaimana mungkin dia melunasi?). Dengan sopan saya menolak.
Pembicaraan berakhir sampai di situ. Bambang kembali bertugas seperti biasa.
Hingga kemarin, saya mendengar berita yang mengejutkan: istri Bambang meninggal karena TBC. Almarhumah baru berumur 28 tahun, meninggalkan suami dan dua anak: 5 dan 2 tahun. Tubuhku langsung kelu. Seketika air mataku berlinang-linang. Rupanya ini alasan Bambang pontang panting mencari pinjaman kesana kemari. Saya langsung merasa berdosa. I’m a very bad person. Waktu itu saya bahkan tak bertanya untuk apa dia butuh uang sebegitu besar. Allah sudah mengetuk pintu saya lewat Bambang, tapi saya luput membacanya. Astagfirullahalazim.
Dalam hati saya sedikit ‘membela diri”: mengapa waktu itu Bambang tak terus terang? Seandainya dia bilang mengapa dia butuh uang besar, tentu akan lain ceritanya. Kalaupun tak bisa memberi uang, setidaknya saya bisa menggalang bantuan atau membuka akses ke dokter atau Rumah Sakit yang baik. Saya juga berusaha “menenangkan diri”: dia tentunya juga minta bantuan ke teman-teman lain di kantor, bukan cuma padaku.
Tapi, bahkan nurani saya menolak pembelaan itu: saya bersalah. Saya berdosa. Apa susahnya waktu itu sekedar bertanya? Saya kan wartawan yang tugasnya sehari-hari bertanya, mengapa tidak bertanya? Ya Allah ampunilah aku.
Ajal memang di tangan Tuhan. Kalaupun waktu itu ada bantuan, bukan berarti bisa “menghidupkan” istri Bambang. Namun setidaknya dana itu bisa mempermudah pengobatan sang istri.
Bambang, maafkan saya. Aku hanya punya doa yang tulus untukmu–meski tak membuatku berhenti merasa bersalah. Ya Allah, karuniakanlah kepada Bambang dan anak-anaknya, kesehatan dan rezeki yang luas untuk melanjutkan hidup. Lapangkanlah jalan istri dan ibu mereka menghadap-Mu, ampunilah dosa-dosanya dan tempatkanlah ia di tempat terbaik di sisi-Mu. Dan bukakanlah mata dan hati kami untuk melihat “bambang-bambang” yang lain di sekeliling kami, Ya Allah ya hayyu ya qayyum.
]]>X Men Origins: Wolverine, film prequel serial The X Men yang menyingkap masa lalu para jagoannya. Kurang “ngepop” dibandingkan Spiderman dan Batman.
BOCAH itu menggelegak dijerang amarah. Melihat ayahnya tersungkur ditikam belati, anak ingusan itu pun menumpahkan murka, mengoyak-ngoyak tubuh sang pembunuh. Pada detik itu, sebuah rahasia terkuak: tubuh mungil itu adalah manusia super. Sesosok mutan yang bisa membara jika terpantik dendam.
Jim Logan—kanak-kanak itu—pun tumbuh dewasa. Dengan kekuatan super itu, ia melanglang di berbagai medan tempur: Perang Dunia I, II hingga Perang Vietnam. Bersama sekelompok prajurit, Logan (Hugh Jackman) akhirnya bergabung di bawah komando Jenderal William Stryker (Danny Huston).
Inilah X Men Origins: Wolverine, film prequel serial X Men yang sudah menangguk sukses di kalangan pecinta komik Marvel. Kali ini, Marvel Entertainment dan Twentieth Century-Fox Film Corporation meluncurkan prequel—film pendahulu—yang menjelaskan asal usul masing-masing pahlawan super X Men. Film ini merupakan kilas balik salah satu X Men: Wolverine. Bagaimana asal muasal kekuatan sang superhero. Termasuk sisi-sisi humanis kehidupannya di masa lalu.
Kekerasan demi kekerasan membuat Logan mengundurkan diri dari band of soldiers dan memilih hidup “normal”. Ia menepi ke hutan dan bekerja sebagai penebang kayu dengan gaji paspasan. Logan hidup tenteram bersama kekasihnya, Kayla Silverfox (Lynn Collins), seorang guru cantik yang senang mendongeng sebelum bercinta.
Mungkin inilah hidup ideal yang diimpikan Logan. Semua serba damai dan ia tak perlu menyemburkan amarah –yang bisa meledakkan monster dalam dirinya. Namun bagi Stryker, kepergian Logan adalah pengkhianatan. Namun ia tak berhasil membujuk sang jagoan untuk pulang kandang.
Ketika Victor Creed (Liev Schreiber)– sesama bekas anak buah Stryker yang kelak menjadi Sabretooth, salah satu X Men– muncul dan menghabisi Kayla, kesumat Logan terbakar. Sisi beringas yang selama ini ia tutup rapat-rapat kembali meledak. Maka ia tak menampik tawaran Stryker yang berhasrat mengubahnya menjadi supermutan. Logan mendesis garang: “Lakukan apa saja, asalkan saya bisa membalas dendam.”
Maka, atas nama amarah, ia dengan sukarela masuk kamar operasi dan menjadi obyek eksperimen Stryker. Logan siap bertransformasi menjadi supermutan yang sanggup memberantas semua mutan yang pernah ada. Namun sayang, saat Stryker mencoba menghapus memori pasiennya, Logan tersadar dan kabur. Alih-alih berhimpun menggilas Victor, Logan dan Stryker malah makin jauh berseberangan.
Logan kini adalah Wolverine, sang mutan super. Dalam menjalankan misi menuntaskan dendam pada Victor, satu demi satu selubung misteri terkuak. Kian benderang siapa sekutu, siapa seteru. Setelah disuguhi kilas balik, penonton pun kembali diantar ke dunia X Men –yang sudah lebih dulu dilayarlebarkan.
Kilas balik asal muasal Wolverine ini juga membuka peluang bagi Hollywood untuk menciptakan film-film “turunan” dari X Men, yang berkisah tentang origins (asal muasal) para tokoh. Kini Wolverine, besok Sabretooth, dan seterusnya. Masih sederet karakter siap untuk disuguhkan ke penggemar X Men. Hal serupa yang juga sukses diterapkan di komiknya. X Men menciptakan “cabang-cabang” komik tentang karakter tokoh-tokohnya, termasuk kilas balik kehidupan mereka.
Seperti juga komiknya, Wolverine versi bioskop ini juga berhasil mengawinkan karakter yang kuat, cerita yang mengalir (baik laga maupun drama) dan –khusus untuk film– penggunaan special effect. Semua dalam proporsi yang pas. Serial X Men mungkin tak cukup “ngepop” seperti dua pendahulunya: Spiderman dan Batman (terutama yang terakhir: The Dark Knight) yang sangat-sangat sukses secara komersil.
Namun, sutradara Gavin Hood tetap mampu menyuguhkan film yang menghibur. Bahkan penonton yang bukan penggila komiknya pun tetap bisa duduk tenang hingga film usai. Dan itu bukan sekedar menikmati Hugh Jackman yang kekar!
Andari Karina Anom/ Majalah TEMPO 4 Mei 2009
]]>DUA profesi yang pada mereka kita “titipkan” nyawa kita: dokter dan pilot. Di dalam kamar operasi dan di atas pesawat, tiada yang bisa kita lakukan selain percaya pada mereka. Sebagai “alumnus” RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat, saya pernah menitipkan hidup pada para dokter. Nah, hari ini, giliran saya menggantungkan nasib di tangan pilot.
Jam 7 pagi ini– Sabtu 2 Mei 2009– saya dan Ari Sutanti, my partner in crime, sudah duduk manis di dalam pesawat Air Asia QZ 7782 menuju Singapura. Setengah jam kemudian, pesawat pun take off. Tak seperti biasanya, ketika sudah terbang, pesawat seperti tak sanggup naik. Posisinya seperti statis.
Lima belas menit pesawat mengangkasa, tiba-tiba terdengar dua kali suara seperti ledakan. Lalu sesekali badan pesawat oleng ke kanan. Satu-dua penumpang menjerit kecil. Pilot mati-matian berusaha menstabilkan posisi pesawat. Pengeras suara pun berkumandang: “Para penumpang yang terhormat, kami beritahukan bahwa mesin pesawat sebelah kanan mati, namun situasi dapat kami kendalikan. Mohon anda tetap tenang karena kami telah terlatih menghadapi situasi seperti ini. Kami sudah mendapat izin untuk kembali ke Soekarno Hatta…” Masya Allah!
Suasana di dalam kabin makin mencekam. Seorang ibu di sebelahku langsung mencengkeram tangan anak lelakinya. Seorang pria berwajah mirip Jamal Malik dalam Slumdog Millionaire meracau dalam tiga bahasa –India, Inggris dan Indonesia. Seorang bule bolak-balik menjerit: Did you hear that? Did you hear that? Para penumpang yang tak saling mengenal berpegangan tangan. Selebihnya hanya terdengar desisan doa.
Kecemasan makin menjalar. Baru belakangan kami ketahui, penumpang yang duduk sejajar sayap kanan melihat bagian bawah sayap memercikkan bola api di dua titik. Pesawat pun tersendat-sendat –seperti mobil tak bisa distarter– lantas miring lagi ke kanan. Laju pesawat makin tak stabil. Kengerian makin merambat tatkala dari arah kanan belakang terdengar bunyi berdebum keras berulang-ulang—seperti bunyi pintu besi yang terbanting-banting. Pikiranku seram melintas, jangan-jangan lambung pesawat hampir robek. Kami dicekam ketakutan luar biasa.
Ari nampak pucat pasi. Saya genggam tangan dan lengannya yang dingin. Meski badanku juga mulai menggeletar, saya berusaha tetap tenang, seraya menggumamkan zikir dan Al Fatihah. Saya sudah alami yang lebih buruk, maka saya pasrah kalau memang ini “sudah waktunya”. Toh, sudah disebut di Al Qur’an: Setiap manusia sudah mempunyai ajalnya. Apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sedetikpun dan tidak pula dapat memajukannya. (QS Al A’raaf:34).
Saya tak terlampau cemas akan diriku, tapi hatiku teriris-iris mengingat Aisha, anakku. Mama sayang kamu, nak. Air mataku menggenang membayangkan yang terburuk yang mungkin terjadi pagi itu.
Alhamdulillah. Pesawat akhirnya berhasil mendarat di Soekarno-Hatta. Ketegangan langsung lumer. Penumpang saling berpelukan dan menangis. Seorang bule memekik: “I’m back on the ground again, this is like my second life.”
Pihak Air Asia menawarkan penumpang menunggu –sampai pesawat selesai diperbaiki atau dialihkan ke pesawat mereka lainnya—atau menarik kembali uang tiket. Hampir seluruh penumpang memilih refund. Termasuk kami. Banyak yang beralih ke maskapai lain. Masih bergidik mengingat kejadian tadi, kami sepakat menunda terbang hari ini. Butuh waktu menenangkan diri sampai kami siap mengudara lagi. Tidak dengan Air Asia lagi, tentunya. There’s no way we’re getting back to that plane again. No, thanks.
]]>Novel-novel ini membuat saya belajar, terhibur dan bernostalgia. Belajar menceritakan sesuatu dengan “basah” — ini istilah kami di Tempo untuk mendeskripsikan sesuatu dengan sedetil-detilnya. Terhibur karena jalan ceritanya yang jenaka lagipula cerdas. Bernostalgia karena buku-buku itu berlatar ibukota Inggris. Saya serasa kembali menapaktilasi London setiap ia menyebut Tesco, WH Smith, Evening Standard, Charing Cross, Elephant and Castle, Natwest, Oyster Card, Eastender…
Maka ketika terbetik kabar Confessions of a Shopaholic difilmkan, saya pun melambungkan harapan setinggi langit. Di pekan pertama film ini diputar, saya dan my partner in crime, Tjut Riana, segera meluncur ke Blitz, Grand Indonesia.
Namun harapan tinggal harapan. Film ini sungguh mengacaukan segala-galanya. Alur ceritanya berubah tidak karuan dan sangat tidak fokus (ibarat sebuah tulisan yang tidak punya angle), karakter tokoh-tokohnya sama sekali berbeda dengan di buku, kejenakaan yang cerdas khas Kinsella berubah jadi humor slapstik yang sama sekali tidak lucu dan bodoh. Yang terburuk: setting London dengan semena-mena dipindah ke New York. Alasan produsernya, untuk kepentingan pengambilan gambar, toko-toko di New York lebih “layak disorot” dibandingkan London. Are you kidding me?
Saya merasa terkhianati. Memang, buku dan film adalah dua produk yang berbeda. Modifikasi, pengurangan atau penambahan bukan sebuah “dosa”. Saya sangat mahfum: bahasa tulis tak mungkin sama persis dengan bahasa gambar. Bahkan film legendaris sekelas The Godfather pun mengandung sejumlah penyelewengan jika dibandingkan novelnya. Toh dua-duanya tetap enak dinikmati karena jiwa sang buku tetap hidup di filmnya. Di Indonesia, film Laskar Pelangi juga menyisipkan sejumlah adegan yang tak ada di karya Andrea Hirata. Tapi, menurutku, hasilnya malah jauh lebih bagus dari novelnya dan –yang terpenting– tak membunuh nyawa si buku.
Saya sudah membaca Bridget Jones’ Diary dan The Devil Wears Prada –buku-buku bergenre sama dengan serial Shopaholic– sebelum menonton filmnya. Kedua film itu juga tak setia pada naskah buku. Tapi saya sebagai penonton sekaligus pembaca tak terlalu terganggu. Saya tetap merasa nyawa dari buku-buku itu tak hilang meski alurnya bergeser.
Tapi tidak dengan film Confession of a Shopaholic. Film ini sama sekali bukan versi layar lebar dari buku, tapi sebuah cerita yang sama sekali berbeda dan sangat mengecewakan. Tak kutemukan setitikpun “ruh” Kinsella dalam film ini. Saya menyesal pernah menontonnya!
]]>You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight
PETIKAN lagu itu begitu lekat di telinga pekan-pekan terakhir ini. Lagu yang melukiskan kepedihan rakyat Palestina itu kerap dipakai sebagai latar liputan perang Gaza . Tak hanya oleh stasiun televisi dan radio Indonesia , tapi di banyak negara.
Diluncurkan awal Januari lalu, We Will Not Go Down (Song for Gaza ) langsung diunggah ke situs youtube. Dalam dua pekan saja, lagu ini sudah diklik oleh 700 ribuan pengunjung. Jumlah ini kian bertambah hingga hari ini. Selain sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa, lagu ini disediakan untuk free download di internet. Namun, sebagian besar orang yang mengunduhnya dengan sukarela malah menyumbang ke UNRWA (United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees in the Near East).
Ini sesuai permintaan Michael Heart. Pencipta sekaligus penyanyi lagu terkenal itu. Lahir di Suriah, Heart tumbuh besar di beberapa negara— Switzerland, Austria dan Amerika Serikat. Selera musiknya mencerminkan kehidupan multikultur yang dilaluinya. Termasuk lagu solidaritasnya untuk Gaza ini.
Ia mulai bermain gitar dan piano di usia 10 tahun. Menginjak usia belasan, ia mulai menggubah lagu dan menyanyikannya sendiri. Lulus dari jurusan Teknik Audio (Audio Engineering) di Full Sail University, California, ia pindah ke Los Angeles pada 1990. Di rumahnya, ia membuka studio rekaman lokal dan menajamkan keahliannya sebagai gitaris dan teknisi rekaman.
Selama lebih dari 18 tahun ini, Heart telah bekerjasama dengan sejumlah artis terkemuka, antara lain: Al Jarreau, Natalie Cole, The Temptations, Phil Collins, Toto dan Will Smith. Kefasihan Michael berbahasa Perancis juga memuluskan kerjasamanya dengan sejumlah artis negara itu: Calogero (The Charts), Marc Lavoine dan Veronique Sanson. Ia juga pernah digandeng sejumlah produser, antara lain: David Foster. Meskipun kebanyakan pekerjaannya berkutat di studio, Michael juga berkeliling sebagai gitaris Flamenco dan juga bergabung dengan band smooth jazz bernama Jango.
Sejatinya, Michael Heart adalah nama panggung belaka. Sebagian besar karya Heart justru dilabeli nama aslinya: Annas Allaf. Inilah nama pemberian orangtuanya yang asli Suriah. Jika sebelumnya lebih banyak berjibaku di balik layar, Annas menuai perhatian dunia saat meluncurkan We Will… Januari lalu. Lagu ini melukiskan ngerinya situasi yang dialami warga Palestina di Gaza. Salah satu liriknya berbunyi: Women and children alike. Murdered and massacred night after night.
Ya, Tuan Allaf memang menunjukkan keberpihakannya dalam lagu itu. Tak heran jika ia tak hanya menuai puja-puji, tapi caci maki. Seorang warga Israel berang dan menuduh lagu Michael “tak akurat dan tak lengkap”. Menurutnya, dalam sebuah mimbar debat di internet, lagu itu sangat jelas menempatkan Hamas sebagai pahlawan sekaligus korban. Padahal, cukup banyak korban sipil Israel akibat serangan Hamas sebelumnya. “Michael hanya mengagung-agungkan kelompok teroris,”katanya.
Toh, kecaman itu tak menyurutkan popularitas Heart. CD terbarunya yang beraliran Pop/Rock berjudul Unsolicited Material kini banyak diputar di radio-radio Amerika, Michael juga menyuguhkan tema-tema serius. Misalnya: perzinahan (Living In Sin); perang (Damaged World) dan juga kekerasan rumah tangga (Finally Free).
Song for Gaza bukanlah lagu pertama yang terkenal karena momen perang. Sebelumnya, ada When The Children Cry yang dirilis White Lion pada 1987. Di awal 2003, saat Perang Irak, lagu ini dinyanyikan ulang dan mencapai puncak popularitas karena relevan dengan situasi perang. Generasi musisi yang lebih tua juga banyak yang mendendangkan lagu-lagu bertema Perang Vietnam .
Andari Karina Anom (Majalah TEMPO Edisi 26 Januari 2009)
]]>