Sopankah Saya?

9 Nov 2009 In: Lifestyle

PEKAN lalu, saat tertib mengantri di kasir Gramedia, Matraman, saya diselak oleh seorang perempuan kurang lebih seusiaku. Penampilannya cukup meyakinkan sebagai orang berduit dan berpendidikan. Sayangnya, semua itu berbanding terbalik dengan tingkat kesopanannya. Saya tegur kasirnya sambil menyorongkan buku yang kubeli: “Mbak, saya kan antrinya di depan ibu ini.” Bukannya malu, si penyerobot malah memelototi saya. Ketika akhirnya si kasir mendahulukanku, si penyelak malah bikin aksi “ngambek”: menarik dengan kasar semua barangnya dari meja kasir dan pergi. Lha?

Saya juga ingat seorang teman yang mendamprat seorang wanita di Le Gourmet Cake Shop, Pondok Indah Mall, di malam Takbiran lalu. Gara-garanya: saat antrian membeli kue sudah mengular –maklum besok mau Lebaran–  eh perempuan itu malah berlama-lama di meja kasir: bertanya ini itu (yang sebetulnya sudah jelas terpampang di daftar menu), meminta kue dengan special request, lalu berbingung ria memilih yang mana (Lha dari tadi ngantri ngapain aja, Mbak? Update status Facebook?).

Kejadian-kejadian itu mengingatkan saya pada tayangan Oprah Winfrey Show akhir tahun lalu. Temanya: “Are You Rude?”. Dalam konteks Indonesia, saya terjemahkan sebagai: “Sopankah Anda?”.  Oprah membeberkan sebuah survei di Amerika pada akhir 2008 tentang perilaku tidak sopan yang “tak termaafkan”– tapi sering dilakukan orang. And, guess what, di urutan pertama adalah: menyerobot antrian!

Read the rest of this entry »

Tulisan ini dibuat menjelang pelantikan Gordon Brown sebagai Perdana Menteri Inggris menggantikan Tony Blair, Juni 2007. Saya lemparkan kembali di blog ini dalam rangka memperingati 25 tahun Chevening Award.

**

PINTU kayu itu sederhana saja: bercat hitam polos dengan ”bel” tradisional berbentuk kepala macan tepat di atas lubang surat. Di bagian atas, tertempel angka 10 yang terbuat dari tembaga kuning mengkilap.

Itulah pintu paling terkenal seantero Inggris dan mungkin di dunia. Di Downing Street No. 10 inilah Perdana Menteri Inggris tinggal dan berkantor selama dua ratus tahun lebih. Ia menjadi saksi Britania Raya melayari sejarahnya. Pada Selasa pekan lalu, giliran Gordon Brown, 54 tahun, melangkah melewati ambangnya. Kali ini mantan menteri keuangan ini menjadi penghuni ke-52.

Perdana menteri berkantor di lantai satu dan tinggal bersama keluarga di lantai dua. Margaret Thatcher, perdana menteri periode 1979-1990, mengibaratkannya bagai ”tinggal di atas toko”: ia selalu bisa dihubungi dan bertugas meskipun ”toko” tutup. Di balik pintu ini, ada beberapa ruangan yang terkenal. Ada Entrance Hall, tempat menyambut tamu, dari pemimpin negeri sampai bintang film. Ada pula Cabinet Room, tempat perdana menteri mengadakan rapat dengan stafnya setiap Kamis—kecuali pada masa Perang Dunia II dan ketika Downing Street direnovasi total.

Hollywood menambah terkenal ruang-ruang itu lewat beberapa filmnya. Salah satunya, film komedi romantis Love Actually. Selain menikmati akting bintang ganteng Hugh Grant sebagai Perdana Menteri Inggris, penonton juga disuguhi ”isi perut” Downing Street: dari Cabinet Room hingga kamar tidur perdana menteri. Dalam film The Queen, penonton juga bisa ”masuk” sampai ruang-ruang terdalam di Number Ten. Semua serupa dengan aslinya. Read the rest of this entry »

Mengenang Liverpool

4 Nov 2009 In: Travel

MALAM ini, di hadapan notebook-ku tercinta, saya bekerja ditemani Strawberry Fields Forever. Tiba-tiba mataku sembab. Ingatan pun berpendar ke lima tahun lalu, saat saya menjejak di gerbang Strawberry Fields, Liverpool. Sejak belia– kelas 1 SMP tepatnya– tiada tempat lain di dunia yang ingin saya sambangi kecuali “Tanah Beatles”. Saya luncurkan kembali tulisan di blog lama saya– demi sebuah kenangan: Let me take you down…cause I’m going to Strawverry Fields…

***

LIVERPOOL membentang di ujung kakiku. Pelabuhan Merseyside di pusat kota tak hanya menerbangkan angin yang meniup-niup rambutku tapi juga sebait lagu Yellow Submarine: in the town where i was born… Kapal selam kuning dalam lagu itu terdampar dengan megah di depan saya sebagai tugu di tengah Chavasse Park. Ya, saya berada di kota kelahiran John Lennon, Paul Mc Cartney, George Harrison dan Ringo Starr.

Inilah kota Liverpool, lima jam perjalanan darat dari London. Ia salah satu kota besar di Inggris selain London, Birmingham dan Manchester. Kota berpenduduk 470.000 jiwa ini terletak di barat laut Inggris, di bibir pelabuhan kawasan Merseyside. Kota pelabuhan ini tengah berusaha mencapai citra baru di tahun 2008 sebagai ibukota peradaban Eropa. Di dunia, ia juga terkenal sebagai rumah bagi dua tim sepakbola terkenal Inggris, Liverpool dan Everton FC.

Di atas segala popularitasnya, Liverpool adalah Beatles. Begitupun sebaliknya. Tak ada kota yang memuja warganya melebihi pemujaan Liverpool pada The Beatles. Meski menyimpan sejarah sebagai kota pelabuhan dan industri yang jaya di masa lalu Inggris dan Eropa, aset utama kota ini tetaplah empat pemuda lokal yang mendunia sejak 1960 hingga detik ini Meski dua di antaranya –Lennon dan Harrison — telah tiada, Beatles tak pernah mati. Mereka akan selalu hidup dan menyambut siapapun yang datang ke Liverpool. Read the rest of this entry »

Hari ini, 11 Agustus, adalah hari lahir penulis favoritku: ENID BLYTON. Di Inggris, ulang tahunnya masih diperingati di berbagai kota. Ini tulisan lamaku, tahun 2004, saat saya masih di London– “dekat” dengan Enid Blyton.

***

BRITANIA Raya menjejali masa kanak-kanakku. Negeri ini hadir di kamar saya setiap hari. Lewat serial Lima Sekawan, Pasukan Mau Tahu, Sapta Siaga hingga Mallory Towers dan St Claire. Terimakasih kepada Enid Blyton, sang pengarang, yang telah menghadirkan Inggris di masa beliaku.

Dan, dua pekan lalu, bagaikan mimpi, saya “bertemu” Blyton di rumahnya yang ia namai Green Hedges di Beaconsfield, Buckinghamshire, sekitar satu jam berkereta dari London. Meski bukan sosok aslinya –dia telah berpulang lebih dari 30 tahun silam— dan hanya rumah replikanya yang saya jumpai di Bekonscot Village, saya cukup berpuas hati. Dengan rasa kagum tiada tara, saya menatap boneka Blyton liliput yang mengetik di halaman belakang rumahnya itu.

Ingatan saya langsung berkelana ke aneka petualangan mendebarkan yang saya lalui bersama Lima Sekawan, Pasukan Mau Tahu dan Sapta Siaga. Semua gambaran dalam novel-novelnya menjelma di hadapan saya tiap kali bertandang ke kota-kota kecil di luar London. Meski ditulis sejak 1920-an, gambaran Blyton tentang kota-kota kecil Inggris itu nyaris tak berubah hingga kini.

Read the rest of this entry »

Pidato-pidato Barack Obama yang memukau dibuat oleh pemuda 27 tahun. Pernah bermasalah di Facebook.

ANAK muda itu duduk di Café Starbucks di Penn Quarter, Washington DC. Ia membentangkan laptop dan sesekali menyesap double espresso. Dengan jeans dan sweater, pria bertampang babyface itu tak ubahnya remaja biasa yang mungkin sedang melongok Facebook di komputernya.

Padahal, pemuda 27 tahun itu adalah salah satu orang terpenting di dunia. Dialah Jonathan Favreau, penulis pidato Presiden Amerika Serikat Barack Obama. Dari komputer jinjingnya ia melahirkan kalimat legendaris kampanye Obama: Yes We Can. Fav —panggilan akrabnya—kini menduduki jabatan resmi: Director of Speechwriting di Gedung Putih.

Posisi mentereng itu tak membuat alumnus Jurusan Ilmu Politik di College of the Holy Cross, Massachussets berubah. Ia tetap lebih nyaman bekerja di kafe atau di apartemen barunya –yang belum dilengkapi funiture– di Dupont Circle. Di kampus, Fav menjadi aktif di College Democrats dan aneka kegiatan sosial: Welfare Solidarity Project dan Habitat for Humanity.

Read the rest of this entry »

Bambang

20 Jun 2009 In: Whatever

NAMANYA Bambang.  Saya bahkan tak tahu nama lengkapnya.  Meski namanya serupa dengan my big boss, Bambang Harymurti, tapi nasib mereka beda. Bambang yang satu ini office boy (OB) di kantorku. Setiap berpapasan denganku, dia selalu menyapa: pagi Mbak Karin, siang Mbak Karin, mau pulang Mbak Karin?.

Beberapa bulan lalu, dia mendatangiku. Dia minta tolong saya meminjam uang di kantor untuknya– atas nama saya. Dia berjanji akan membayarnya setiap bulan ke saya.  Jumlah yang diajukan lumayan besar (dan cicilan bulanannya bahkan lebih besar dari gajinya– bagaimana mungkin dia melunasi?). Dengan sopan saya menolak.

Pembicaraan berakhir sampai di situ. Bambang kembali bertugas seperti biasa.

Read the rest of this entry »

X Men Origins: Wolverine, film prequel serial The X Men yang menyingkap masa lalu para jagoannya. Kurang “ngepop” dibandingkan Spiderman dan Batman.

BOCAH itu menggelegak dijerang amarah. Melihat ayahnya tersungkur ditikam belati, anak ingusan itu pun menumpahkan murka, mengoyak-ngoyak tubuh sang pembunuh. Pada detik itu, sebuah rahasia terkuak: tubuh mungil itu adalah manusia super. Sesosok mutan yang bisa membara jika terpantik dendam.

Jim Logan—kanak-kanak itu—pun tumbuh dewasa. Dengan kekuatan super itu, ia melanglang di berbagai medan tempur: Perang Dunia I, II hingga Perang Vietnam. Bersama sekelompok prajurit, Logan (Hugh Jackman) akhirnya bergabung di bawah komando Jenderal William Stryker (Danny Huston).

Inilah X Men Origins: Wolverine, film prequel serial X Men yang sudah menangguk sukses di kalangan pecinta komik Marvel. Kali ini, Marvel Entertainment dan Twentieth Century-Fox Film Corporation meluncurkan prequel—film pendahulu—yang menjelaskan asal usul masing-masing pahlawan super X Men. Film ini merupakan kilas balik salah satu X Men: Wolverine. Bagaimana asal muasal kekuatan sang superhero. Termasuk sisi-sisi humanis kehidupannya di masa lalu.

Read the rest of this entry »

DUA profesi yang pada mereka kita “titipkan” nyawa kita: dokter dan pilot. Di dalam kamar operasi dan di atas pesawat, tiada yang bisa kita lakukan selain percaya pada mereka. Sebagai “alumnus” RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat, saya pernah menitipkan hidup pada para dokter. Nah, hari ini, giliran saya menggantungkan nasib di tangan pilot.

Jam 7 pagi ini– Sabtu 2 Mei 2009– saya dan Ari Sutanti, my partner in crime, sudah duduk manis di dalam pesawat Air Asia QZ 7782 menuju Singapura. Setengah jam kemudian, pesawat pun take off. Tak seperti biasanya, ketika sudah terbang, pesawat seperti tak sanggup naik. Posisinya seperti statis.

Lima belas menit pesawat mengangkasa, tiba-tiba terdengar dua kali suara seperti ledakan. Lalu sesekali badan pesawat oleng ke kanan. Satu-dua penumpang menjerit kecil. Pilot mati-matian berusaha menstabilkan posisi pesawat. Pengeras suara pun berkumandang: “Para penumpang yang terhormat, kami beritahukan bahwa mesin pesawat sebelah kanan mati, namun situasi dapat kami kendalikan. Mohon anda tetap tenang karena kami telah terlatih menghadapi situasi seperti ini. Kami sudah mendapat izin untuk kembali ke Soekarno Hatta…” Masya Allah!

Read the rest of this entry »

Kecewa Shopaholic

19 Mar 2009 In: Books, Film

SAYA tertambat pada Sophie Kinsella sejak menjamah Confessions of a Shopaholic pada 2003. Saya pun kecanduan. Terjerat. Terbius. Saya sudah menamatkan lima judul serial Shopaholic: Confessions of a Shopaholic, Shopaholic Abroad, Shopaholic Ties The Knot, Shopaholic and Sister dan Shopaholic and Baby. Saya juga sudah menuntaskan dua novel Kinsella lainnya: Can You Keep a Secret dan Do You Remember.

Novel-novel ini membuat saya belajar, terhibur dan bernostalgia. Belajar menceritakan sesuatu dengan “basah” — ini istilah kami di Tempo untuk mendeskripsikan sesuatu dengan sedetil-detilnya. Terhibur karena jalan ceritanya yang jenaka lagipula cerdas. Bernostalgia karena buku-buku itu berlatar ibukota Inggris. Saya serasa kembali menapaktilasi London setiap ia menyebut Tesco, WH Smith, Evening Standard, Charing Cross, Elephant and Castle, Natwest, Oyster Card, Eastender…

Read the rest of this entry »

You can burn up our mosques and our homes and our schools

But our spirit will never die

We will not go down

In Gaza tonight

PETIKAN lagu itu begitu lekat di telinga pekan-pekan terakhir ini. Lagu yang melukiskan kepedihan rakyat Palestina itu kerap dipakai sebagai latar liputan perang Gaza . Tak hanya oleh stasiun televisi dan radio Indonesia , tapi di banyak negara.

Diluncurkan awal Januari lalu, We Will Not Go Down (Song for Gaza ) langsung diunggah ke situs youtube. Dalam dua pekan saja, lagu ini sudah diklik oleh 700 ribuan pengunjung. Jumlah ini kian bertambah hingga hari ini. Selain sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa, lagu ini disediakan untuk free download di internet. Namun, sebagian besar orang yang mengunduhnya dengan sukarela malah menyumbang ke UNRWA (United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees in the Near East).

Ini sesuai permintaan Michael Heart. Pencipta sekaligus penyanyi lagu terkenal itu. Lahir di Suriah, Heart tumbuh besar di beberapa negara— Switzerland, Austria dan Amerika Serikat. Selera musiknya mencerminkan kehidupan multikultur yang dilaluinya. Termasuk lagu solidaritasnya untuk Gaza ini.

Read the rest of this entry »